JAKARTA -- Kematian 12 anak serigala yang baru berusia beberapa pekan memicu kontroversi di Amerika Serikat setelah terungkap bahwa para pemburunya memperoleh pembayaran ribuan dolar dari program pengendalian populasi satwa liar. Peristiwa yang terjadi di negara bagian Idaho itu menimbulkan pertanyaan mengenai batas etika perburuan, penggunaan dana publik, dan kebijakan pemerintah dalam mengendalikan populasi predator.
Investigasi The Guardian bersama media investigasi Public Domain yang diterbitkan Jumat (6/11/2026) mengungkap bahwa tiga pemburu membunuh 12 anak serigala pada 25 April 2026 di kawasan Idaho Panhandle, bagian utara negara bagian tersebut. Berdasarkan catatan pemerintah yang diperoleh kedua media, setiap anak serigala yang dibunuh menghasilkan pembayaran penggantian biaya sebesar 2.000 dolar AS.
Dengan demikian, total pembayaran untuk 12 anak serigala itu mencapai 24 ribu dolar AS (Rp434 juta). Dana tersebut disalurkan melalui program penggantian biaya perburuan yang didukung pemerintah negara bagian Idaho dan melibatkan organisasi nirlaba Foundation for Wildlife Management (F4WM).
Hal yang paling mengundang perhatian adalah usia hewan-hewan tersebut. Para pakar memperkirakan anak serigala itu baru berumur satu hingga tiga pekan, saat mereka masih bergantung kepada induknya dan biasanya belum mampu menjelajah jauh dari sarang.
Dokumen yang ditinjau wartawan juga mengindikasikan kemungkinan sedikitnya satu kelompok anak serigala dari induk yang sama dibunuh secara bersamaan. Namun, cara kematian mereka masih menjadi perdebatan karena keterangan dalam catatan pemerintah tidak sepenuhnya konsisten.
Temuan tersebut memicu kritik organisasi perlindungan satwa liar. Mereka mempertanyakan mengapa pembunuhan serigala yang masih sangat muda dapat memperoleh pembiayaan melalui mekanisme yang mendapatkan dukungan dana publik.
Tiga Pemburu Bunuh 12 Anak Serigala dalam Sehari
Menurut catatan Departemen Perikanan dan Satwa Liar Idaho atau Idaho Department of Fish and Game (IDFG), seluruh anak serigala tersebut dibunuh pada tanggal yang sama, 25 April 2026. Lokasi kejadian berada di wilayah Idaho Panhandle, kawasan berhutan yang menjadi habitat serigala abu-abu.
Catatan pemerintah mengidentifikasi tiga pemburu yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Dokumen menyebut penggunaan senapan, meskipun beberapa bagian laporan menunjukkan informasi yang saling bertentangan mengenai senjata yang digunakan.
Dalam sedikitnya dua catatan, kolom tertentu menyatakan tidak ada senjata yang digunakan. Sementara itu, bagian lain dokumen mencatat senapan sebagai alat yang digunakan dalam pembunuhan.
Ketidaksesuaian tersebut menjadi perhatian karena laporan kematian satwa liar merupakan salah satu sumber informasi penting bagi pemerintah untuk memantau aktivitas perburuan. Catatan tersebut seharusnya memberikan gambaran mengenai lokasi, waktu, metode, dan kondisi hewan yang dibunuh.
Ahli biologi IDFG, Cory Mosby, mengonfirmasi kepada The Guardian bahwa ke-12 hewan yang tercatat memang merupakan anak serigala. Namun, usia pasti mereka tidak dapat dipastikan melalui pemeriksaan gigi seperti prosedur yang biasa dilakukan terhadap serigala dewasa.
Petugas umumnya mengambil sampel gigi untuk memperkirakan umur serta mempelajari informasi biologis dan genetik serigala yang mati. Dalam kasus ini, sampel gigi tidak diambil karena kemungkinan gigi anak-anak tersebut belum tumbuh atau terlalu kecil untuk diekstraksi.
Perkiraan usia satu hingga tiga pekan didasarkan pada periode kelahiran serigala yang umumnya berlangsung pada musim semi. Anak serigala pada usia tersebut biasanya masih berada di sarang dan sangat bergantung pada anggota kelompok dewasa.
Diduga Diambil Langsung dari Sarangnya
Kontroversi bertambah ketika para ahli mempertanyakan metode pembunuhan yang dicantumkan dalam dokumen pemerintah. Seluruh peristiwa tercatat menggunakan metode still stalk, yakni pemburu melihat sasaran lalu mendekatinya secara perlahan sebelum melakukan penembakan.
Namun, mantan petugas pengendalian satwa liar pemerintah federal Amerika Serikat, Carter Niemeyer, menilai metode itu sulit menjelaskan kematian 12 anak serigala yang masih sangat muda dalam satu hari.
Niemeyer memiliki pengalaman hampir tiga dekade bekerja dalam program pengendalian predator di Departemen Pertanian Amerika Serikat. Ia juga terlibat dalam upaya pemulihan populasi serigala di kawasan Pegunungan Rocky.
Menurut Niemeyer, pemburu kemungkinan menemukan lokasi sarang, memantau aktivitas induknya, kemudian mengambil anak-anak serigala tersebut. Ia menilai kematian sejumlah besar anak serigala dalam satu hari melalui metode mengendap sebagaimana tercantum dalam dokumen merupakan kejadian yang sangat tidak lazim.
Perkiraan tersebut sejalan dengan penjelasan pakar biologi serigala Doug Smith, yang pernah memimpin program penelitian serigala di Taman Nasional Yellowstone. Smith menjelaskan bahwa anak serigala pada usia sangat muda relatif mudah dijangkau ketika lokasi sarangnya diketahui.
Dalam pengalaman penelitiannya, induk serigala tidak selalu bertahan di dekat anak-anaknya ketika manusia mendekati sarang. Kondisi tersebut memungkinkan manusia mengambil anak-anak serigala tanpa menghadapi perlawanan langsung dari induknya.
Meski demikian, belum tersedia bukti yang memastikan para pemburu dalam kasus Idaho benar-benar mengeluarkan anak serigala dari sarang. Penjelasan Niemeyer dan Smith merupakan penilaian ahli terhadap kemungkinan metode yang digunakan, bukan hasil pemeriksaan forensik yang menetapkan kronologi pembunuhan.