Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah cukup dalam hingga akhir perdagangan sesi I hari ini. IHSG berada di level 4.931,39, turun 98,87 poin atau 1,97%.
IHSG membuka perdagangan di level 4.955,83, lebih rendah dari penutupan sebelumnya. Sepanjang pagi, indeks bergerak di kisaran 4.925,10 hingga 4.969,00. Level tertinggi itu tercatat di awal perdagangan, sedangkan level terendah muncul menjelang tengah hari.
Dari sisi aktivitas, volume transaksi mencapai 90,13 juta lot dengan nilai transaksi sekitar Rp2,97 triliun.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan melanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini, Jumat (6/11/2026), setelah IHSG dan rupiah kompak menguat kemarin. Perkembangan politik Amerika Serikat (AS) pasca pemilu sela serta pergerakan harga minyak dunia masih akan menjadi perhatian utama investor.
Dari dalam negeri, pelaku pasar akan mencermati pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2026 yang melampaui ekspektasi, hasil rapat OJK, serta arah kebijakan pemerintah terkait insentif investasi dan tax holiday.
Sementara itu, dari eksternal, ambruknya Wall Street dan saham teknologi menjadi perhatian besar.
Lonjakan inflasi produsen Zona Euro dan rilis indeks harga pangan dunia FAO turut menjadi sentimen penting bagi pasar keuangan global.
Berikut sentimen dan perkembangan penting yang perlu dicermati pelaku pasar.
1. Ekonomi RI Tumbuh 5,47%, Tertinggi Sejak Kuartal I-2026
Kemarin (05/11/2026), Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan produk domestik bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,47% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada kuartal III-2026, menjadi yang tertinggi sejak kuartal I-2026 yang mencapai 5,61%.
Pertumbuhan tersebut meningkat dibandingkan kuartal II-2026 sebesar 5,29% YoY, sekaligus melampaui konsensus ekonom yang dihimpun CNBC Indonesia sebesar 5,20%.
Secara kuartalan (quarter-to-quarter/QtQ), ekonomi Indonesia tumbuh 1,59%, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 3,73% pada kuartal sebelumnya.
2. Inflasi Produsen Zona Euro Melonjak 11,1%, Tertinggi Sejak Februari 2023
Dari eksternal, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada lonjakan inflasi produsen di kawasan Zona Euro yang menunjukkan meningkatnya tekanan harga, terutama akibat kenaikan biaya energi.
Berdasarkan data Eurostat yang dirilis Kamis (5/11/2026), indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI) Zona Euro naik 11,1% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada September 2026.
Angka tersebut melampaui ekspektasi pasar sebesar 10,9%, sekaligus menjadi yang tertinggi sejak Februari 2023.
Secara bulanan (month-to-month/mtm), harga produsen Zona Euro meningkat 2,5% pada September, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 2,0% pada Agustus.
Sementara itu, harga produsen di seluruh Uni Eropa naik 10,9% YoY dan 2,6% secara bulanan.
3. Bank Sentral Inggris Naikkan Suku Bunga
Bank Sentral Inggris (Bank of England/BoE) memutuskan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4% pada November 2026. Keputusan ini diambil dengan suara mayoritas 8-1, sesuai ekspektasi pasar.
Kenaikan ini menjadi yang pertama sejak Agustus 2023. Satu anggota Komite Kebijakan Moneter (MPC), Catherine Mann, bahkan menginginkan kenaikan lebih agresif sebesar 50 bps menjadi 4,25%.
BoE menegaskan kebijakan suku bunga tidak berada pada jalur yang telah ditentukan sebelumnya. Komite akan terus mengevaluasi data ekonomi dalam setiap pertemuan dan menyesuaikan suku bunga sesuai kebutuhan untuk memastikan inflasi konsumen kembali ke target 2% dalam jangka menengah.