JAKARTA -- Ketua Pembina Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al-Azhar, Jimly Asshiddiqie mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat ruang publik sebagai kekuatan penyeimbang. Jimly mengajak masjid berani menyuarakan kritik moral dan menjadi corong suara nurani saat kekuasaan menunjukkan kecenderungan yang zalim.
Hal itu disampaikan Jimly ketika memberikan sambutan dalam Aksi Rakyat Bela Indonesia pada Ahad (8/11/2026). Jimly memandang perkembangan situasi bangsa saat ini membutuhkan keberanian masyarakat agar tidak larut dalam arus pemikiran kelompok yang sedang berkuasa.
“Kita harus memperkuat ruang publik yang tidak larut dalam cara berpikir mainstream, larut pada cara berpikir orang-orang yang sedang berkuasa tapi zalim menggunakan kekuasaannya,” kata Jimly dalam kegiatan tersebut.
Jimly menyentil kekuatan pengkhianat harus diimbangi. Salah satu wujudnya dengan menghadirkan Aksi Bela Rakyat.
“Kita harus menjadi corong suara pengimbang. Kalau ada kelompok pengkhianat maka harus muncul yang mengimbanginya,” ujar Jimly.
Dalam penjelasannya, Jimly mengutip Surah Al-Baqarah ayat 251 dan Surah Al-Hajj ayat 40. Ia menekankan pentingnya mekanisme saling mengimbangi antarkelompok dalam kehidupan masyarakat untuk mencegah kerusakan dan kehancuran.
Ia secara khusus mengutip bagian Surah Al-Hajj ayat 40 yang menjelaskan bahwa Allah menolak kerusakan di muka bumi melalui adanya kelompok manusia yang saling mengimbangi.
“Jikalau tidak mengimbangi satu kelompok orang oleh kelompok yang lain, bumi ini akan hancur, saudara-saudara sekalian,” ucap Jimly.
Jimly lalu menghubungkan pesan tersebut dengan kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara. Jimly mengamati munculnya hegemoni kekuasaan tertentu harus diimbangi dengan suara moral, termasuk melalui peran masjid.
“Gejala yang terjadi di negara kita ini ada hegemoni kekuasaan tertentu, maka perlu diimbangi dan itu harus disuarakan oleh masjid,” ucap Jimly.