Beijing (ANTARA) - Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA menegaskan kecerdasan buatan (AI) tidak menggantikan tanggung jawab editorial dan pentingnya kerja para jurnalis.
"Kecerdasan buatan dapat membantu para wartawan, tetapi tidak dapat menggantikan penilaian manusia dan tanggung jawab editorial," kata Direktur Utama LKBN ANTARA Abdul Hakim yang menjadi pembicara pertama dalam seminar "Forum on Powering Intelligent Media" di Beijing, Kamis.
Seminar tersebut merupakan rangkaian acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-7 World Media Summit dengan tema "Media di Era Kecerdasan: Dari Konsensus Menuju Aksi" pada 5-9 November di Beijing.
"Teknologi dapat mempercepat produksi berita, tetapi tidak boleh melemahkan komitmen kami terhadap akurasi, verifikasi, keadilan, dan integritas," ungkap Abdul Hakim.
Pada saat yang sama, ia menyebut, masa depan media cerdas bergantung pada energi dan infrastruktur komputasi.
"Seiring dengan berkembangnya teknologi, kita harus mengupayakan inovasi yang efisien, bertanggung jawab terhadap lingkungan, dan dapat diakses, tidak hanya oleh negara-negara yang paling maju secara teknologi, tetapi juga oleh negara-negara berkembang," tambah dia.
Indonesia, menurut Abdul, sebagai negara kepulauan yang luas dengan beragam bahasa dan masyarakat, memahami pentingnya inklusivitas.
"Transformasi digital yang bermakna harus memastikan bahwa masyarakat di luar kota-kota besar juga memiliki akses terhadap informasi yang kredibel. Tidak boleh ada negara, komunitas, ataupun suara yang tertinggal," tegas Abdul Hakim.
Kantor-kantor berita, sebut Abdul Hakim, mungkin beroperasi dalam bahasa yang berbeda dan melayani masyarakat yang berbeda pula.
"Namun, kita memiliki tanggung jawab bersama, yaitu membantu masyarakat untuk saling memahami melalui fakta, konteks, dan sikap saling menghormati," tambah Abdul.
Ia juga mengakui bahwa teknologi membuat media menjadi lebih cepat, sistem cerdas membuat media menjadi lebih pintar tapi rasa percayalah yang memberikan makna bagi media.
"Marilah kita membangun kepercayaan tersebut bersama-sama. Izinkan juga saya menyampaikan ucapan selamat yang paling hangat kepada Kantor Berita Xinhua yang memperingati hari jadinya ke-90, 'Xinhua she, sheng ri kuai le," kata Abdul.
Sedangkan Wakil Pemimpin Redaksi Xinhua Ren Weidong mengajak agar perwakilan kantor berita yang hadir menjadikan forum tersebut sebagai titik awal menyatukan tekad, dan bergandengan tangan untuk menyumbangkan pemikiran dan kebijaksanaan demi menjaga keamanan global serta mendorong pembangunan berkelanjutan.
"Marilah kita memberikan kontribusi untuk menjunjung tinggi nilai-nilai bersama seluruh umat manusia dan mendorong pembangunan komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia," kata Ren dalam acara yang sama.
"World Media Summit" (WMS) mempertemukan hampir 500 delegasi dari sekitar 330 media arus utama, lembaga pemikir, instansi pemerintah, dan organisasi internasional yang berasal dari 112 negara dan wilayah di seluruh dunia.
Terdapat sejumlah topik yang didiskusikan antara lain "AI untuk Semua dan Transformasi Media Global", "Dialog dan Kerja Sama Media untuk Dunia yang Lebih Aman", "Komunikasi Berbasis AI untuk Memperluas Pertukaran Antarperadaban", "AI+ dan Masa Depan Tata Kelola Komunikasi Global" serta "Pendekatan Beijing: Memahami Modernisasi China".
Para delegasi juga akan mengunjungi sejumlah lokasi di Beijing di sela-sela penyelenggaraan konferensi.
KTT WMS pertama kali digagas pada 2009 dan telah menjadi salah satu wadah global penting bagi pertukaran dan kerja sama media tingkat tinggi.