Jakarta, CNBC Indonesia - Dokumen industri pertahanan Rusia yang bocor mengungkap rencana rahasia Moskow untuk memasok 90 peluncur rudal berpemandu canggih kepada Iran. Temuan mengejutkan ini menyoroti makin dalamnya kerja sama militer antara kedua negara tersebut.
Mengutip The Guardian, Jumat (6/11/2026), dokumen tersebut awalnya diperoleh oleh firma intelijen swasta Ukraina, Dallas Analytics. Berkas rahasia itu merinci rencana pasokan peluncur untuk LMUR yang kerap digunakan pasukan Rusia untuk menghantam target di Ukraina.
Jadwal produksi Vympel pada Mei 2024 mencantumkan pesanan 90 peluncur di bawah kontrak ekspor berkode "K-10" yang diidentifikasi sebagai Iran. Pengiriman puluhan senjata mematikan tersebut dijadwalkan berlangsung antara akhir tahun 2024 hingga Desember 2025.
Meski belum dipastikan apakah peluncur itu benar-benar dikirim, jadwal terpisah mencantumkan pengiriman enam jet pelatih Yak-130 ke Iran pada 2023. Catatan ini nyatanya sangat konsisten dengan berbagai laporan publik mengenai pengiriman pesawat tersebut.
Bocoran ini memberikan pandangan baru tentang kerja sama militer Rusia dan Iran di saat yang sangat sensitif. Washington saat ini tengah mempertimbangkan langkah selanjutnya dalam perang melawan Iran usai pemilihan umum sela Amerika Serikat (AS).
Para pengamat secara luas menilai Moskow sebagai salah satu pemenang utama dari perang yang berkepanjangan di Iran. Konflik di Timur Tengah ini terbukti telah membawa keuntungan strategis maupun ekonomi yang besar bagi Rusia.
Rusia diuntungkan oleh lonjakan harga energi global akibat gangguan pelayaran di Selat Hormuz dan serangan infrastruktur di seluruh Teluk. Perang ini juga mengalihkan perhatian internasional sehingga memperburuk akses Ukraina terhadap rudal Patriot AS.
Pendapatan minyak yang lebih tinggi memberi Kremlin sumber dana tambahan untuk perangnya dan mengurangi tekanan anggaran. Namun, Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah berulang kali meremehkan sejauh mana dukungan Moskow terhadap Teheran.
"Rusia melakukan sangat sedikit hal, jika ada, untuk membantu Teheran," ungkapnya.
Trump berdalih bahwa dirinya sama sekali tidak ingin menjauhkan Moskow dari negosiasi untuk mengakhiri perang di Ukraina. Namun, klaim Trump sangat kontras dengan temuan intelijen Eropa yang menyebut Rusia telah memberikan data penting dan gambar satelit kepada Iran.
Bantuan data tersebut diyakini dapat membantu Iran dalam menargetkan pasukan AS secara akurat di wilayah Timur Tengah. Badan intelijen Eropa juga memperingatkan bahwa Moskow sedang bersiap memasok drone bermuatan bahan peledak ke Teheran untuk melawan AS dan Israel.
Hubungan militer keduanya memang meluas secara signifikan sejak tahun 2022 saat Teheran menjadi pemasok penting drone serang Shahed. Pada 2025, kedua negara menandatangani perjanjian kemitraan strategis dan bahkan sukses mengadakan tiga pertemuan tingkat tinggi pada Oktober lalu.
Rusia berhati-hati untuk tidak memublikasikan kerja sama ini karena khawatir akan merusak hubungan Presiden Vladimir Putin dengan Trump. Rusia nyatanya juga menghadapi kendala kemampuan pasokan senjata karena sebagian besar produksi militernya terkuras oleh perang Ukraina.
Dokumen yang bocor itu turut memberikan gambaran sekilas tentang tekanan besar yang kini tengah dihadapi oleh industri pertahanan Rusia. Vympel memperingatkan bahwa keterlambatan pasokan komponen penting telah mengancam perakitan peluncur rudal sekaligus berisiko mengganggu kontrak pertahanan negara.
[Gambas:Video CNBC]