GAZA – Banjir yang mendera Jalur Gaza kembali merenggut jiwa di tengah krisis kemanusiaan akibat agresi Israel di wilayah itu. Di Gaza bagian tengah, lima warga meninggal akibat runtuhnya tebing pasir curam yang menimpa tenda-tenda pengungsi di kamp pengungsian Ard El-Rebat, Deir al-Balah.
Di antara para korban termasuk seorang perempuan dan tiga anak-anak. Sementara lima warga sipil lainnya mengalami luka-luka pada Ahad malam.
Koresponden WAFA mengutip keterangan tim penyelamat yang menyatakan bahwa mereka awalnya menemukan jenazah seorang perempuan dari bawah reruntuhan pasir, disusul oleh empat korban lainnya, termasuk tiga anak-anak. Lima orang yang terluka juga berhasil dievakuasi dalam keadaan hidup dari lokasi kejadian, sementara operasi pencarian terhadap korban yang hilang masih terus berlanjut.
Hujan deras membanjiri ribuan tenda di seluruh Gaza sejak Sabtu, membuat keluarga-keluarga pengungsi terpapar cuaca dingin, genangan air yang terus naik, serta risiko kerusakan lebih lanjut pada bangunan-bangunan yang memang sudah rapuh. Badan Pertahanan Sipil Gaza menyatakan telah menerima sekitar 1.500 panggilan darurat dalam kurun waktu 10 jam setelah hujan mulai turun pada Sabtu pagi.
Al Jazeera melaporkan bahwa di beberapa lokasi pengungsian, ketinggian air mencapai 30 hingga 40 sentimeter. Juru bicara Pertahanan Sipil, Mahmoud Basal, mengatakan: “Apa yang kami khawatirkan benar-benar terjadi. Beberapa pusat pengungsian terendam banjir sepenuhnya, dan semua orang yang berada di dalamnya kini terpaksa keluar menuju tempat yang tidak jelas.”
Peristiwa ini terjadi di tengah penderitaan yang kian memburuk bagi warga Palestina yang mengungsi di Jalur Gaza. Hujan deras dan sistem cuaca bertekanan rendah yang melanda wilayah tersebut telah menyebabkan tenda-tenda terendam banjir dan merusak tempat penampungan.
Kondisi ini memicu seruan berulang untuk segera melakukan intervensi, menyediakan tempat berlindung yang aman, serta menyalurkan perlengkapan musim dingin. Berbagai lembaga nasional maupun internasional telah memperingatkan bahwa lebih dari 2.000 bangunan yang rusak, retak, dan secara struktural tidak lagi kokoh berisiko runtuh—terutama di tengah hujan yang terus mengguyur dan angin kencang—sehingga mengancam nyawa warga Palestina yang terpaksa tinggal di dalam atau di sekitar bangunan-bangunan tersebut.
Sementara itu, Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) pada hari Sabtu memperingatkan mengenai risiko yang dihadapi oleh keluarga-keluarga pengungsi yang tinggal di daerah rawan banjir serta di bangunan-bangunan yang rusak akibat hujan deras. OCHA juga menyoroti minimnya persediaan bantuan dan mendesak agar perlengkapan musim dingin segera disalurkan, seraya menyerukan penambahan dana untuk mendukung respons kemanusiaan.
Mansour al-Sakni (33 tahun) hanya bisa pasrah menyaksikan air hujan membanjiri tempat berlindung darurat di atap sebuah bangunan di lingkungan al-Tuffah, Kota Gaza, tempat ia tinggal bersama istri dan keempat anaknya. Keluarga tersebut baru saja mengganti terpal lama mereka dengan yang baru dua minggu lalu. Sakni bahkan menjual dua tong air agar bisa membeli lembaran terpal baru demi menjaga mereka tetap kering dan terlindungi.
Namun, saat badai musim dingin pertama melanda Jalur Gaza, atap darurat itu hampir tidak memberikan perlindungan apa pun. “Kami terbangun dan mendapati diri kami dikelilingi oleh air. Anak-anak menangis. Saya tidak tahu harus berbuat apa, dan saya pun ikut menangis,” ujar Sakni kepada Middle East Eye.
“Kami berdiri di dalam tenda terpal itu sambil menunggu hujan reda, agar kami bisa mencoba mengeluarkan air dari ruangan tersebut.”
Sakni tinggal di sebuah ruangan seluas 30 meter persegi dengan dinding dari terpal yang telah rusak akibat cuaca. “Saya menjual dua tong air untuk membeli terpal baru demi melindungi keluarga dari hujan dan angin, tetapi sia-sia saja. Tadi malam, kami kembali kebanjiran akibat hujan,” ujarnya.
Sebelum perang, Sakni mencari nafkah dengan berjualan koran. Kini, ia tidak memiliki penghasilan tetap dan keluarganya sepenuhnya bergantung pada makanan yang dibagikan oleh dapur umum, yang secara lokal disebut sebagai takiya.
Putrinya yang berusia 10 tahun, Jana, mengalami gangguan penglihatan. Ia membutuhkan kacamata, namun Sakni tidak mampu membelinya. Seorang teman sempat memberinya 200 shekel untuk membeli kacamata, tetapi uang tersebut justru ia gunakan untuk membeli kayu guna memperkuat tempat tinggal mereka.
“Kami adalah orang miskin di Gaza. Kami ingin hidup. Kami tidak ingin mati karena pengeboman atau kedinginan. Cukup sudah. Kasihanilah kami.”