Ekonomi

BI: Uang Primer Tumbuh 7% Jadi Rp 2.265 Triliun

BI: Uang Primer Tumbuh 7% Jadi Rp 2.265 Triliun

Liputan6.com, Jakarta - () mencatat adjusted pada tumbuh 7% Year on Year (YoY) menjadi Rp 2.265,4 triliun. Hal ini melanjutkan pertumbuhan pada September 2026 9,3%.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menuturkan, perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan uang kartal yang diedarkan sebesar 11,5% (YoY) dan giro bank umum di BI adjusted yang mengalami kontraksi sebesar 2,4% (YoY).

“Berdasarkan faktor yang memengaruhinya, pertumbuhan M0 adjusted telah memperhitungkan dampak pemberian insentif likuiditas (pengendalian moneter adjusted),” ujar dia dalam keterangan resmi, Jumat (6/11/2026).

BI menyebutkan, Uang Primer (M0) Adjusted menggambarkan perkembangan uang primer yang telah mengisolasi dampak penurunan giro bank di Bank Indonesia akibat pemberian insentif likuiditas.

Mulai Januari 2025, Bank Indonesia melakukan penyesuaian perhitungan M0 adjusted untuk memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai perkembangan uang primer dan pengaruh dari kebijakan likuiditas yang dilakukan oleh Bank Indonesia.

BI Jaga Likuiditas, Uang Primer Tumbuh 18,3% pada Juli 2026

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) memperkuat kebijakan likuiditas untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi setelah uang primer atau M0 tumbuh 18,3% secara tahunan pada Juli 2026.

Pertumbuhan M0 tersebut menunjukkan likuiditas perekonomian tetap terjaga melalui kebijakan operasi moneter BI dan ekspansi operasi keuangan pemerintah. BI juga mencatat uang beredar dalam arti luas atau M2 tumbuh 8,7% yoy pada periode yang sama.

"Bank Indonesia akan terus memperkuat kebijakan untuk menjaga kecukupan likuiditas pasar uang, perbankan, dan perekonomian yang konsisten dengan pencapaian sasaran inflasi,” kata Pjs. Gubernur BI Destry Damayanti dalam konferensi pers RDG BI yang disiarkan daring, Rabu (19/8/2026).

BI mencatat pertumbuhan M0 terutama berasal dari giro bank umum di BI yang tumbuh 22,4% yoy dan uang kartal yang tumbuh 15,1% yoy. BI mengatakan operasi moneter dan ekspansi operasi keuangan pemerintah menjadi faktor utama yang memengaruhi pertumbuhan M0.

Sementara itu, pertumbuhan M2 terutama dipengaruhi penyaluran kredit perbankan dan peningkatan tagihan bersih kepada pemerintah pusat. Kondisi tersebut menunjukkan transmisi likuiditas ke perekonomian tetap berjalan melalui sektor perbankan dan kebijakan fiskal.

“Berbagai upaya penguatan untuk menjaga kecukupan likuiditas pasar uang, perbankan, dan perekonomian akan terus ditempuh sehingga dapat menjaga stabilitas dan turut mendukung pertumbuhan ekonomi,” ujar Destry.

BI akan terus mengelola kecukupan likuiditas dengan mempertimbangkan sasaran inflasi dan stabilitas makroekonomi. Kebijakan tersebut juga diarahkan untuk memastikan ketersediaan likuiditas yang mendukung aktivitas kredit dan pertumbuhan ekonomi nasional.