Politik

Bina Insan Mulia Gelar Pembekalan Wawasan Kebangsaan untuk 1460 Calon Mahasiswa Azhar Mesir

Bina Insan Mulia Gelar Pembekalan Wawasan Kebangsaan untuk 1460 Calon Mahasiswa Azhar Mesir

JAKARTA -- Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon menyelenggarakan pembekalan wawasan kebangsaan untuk 1.460 calon mahasiswa baru Universitas Al-Azhar Mesir tahun ajaran 2026–2027. Mereka berasal dari Forum Konsultan Pendidikan Al-Azhar Mesir-Indonesia (FORKAPMI).

Pembekalan berlangsung di Luxton Hotel & Convention Centre Cirebon pada Rabu (21/10/2026). Tujuan kegiatan untuk menghasilkan generasi muda Indonesia yang unggul dalam keilmuan, memiliki semangat nasionalisme yang tinggi, karakter yang kuat, dan menerapkan pemahaman keagamaan yang moderat.

Para tokoh yang hadir adalah KH. Imam Jazuli, Lc., M.A. — Rais Syuriah PBNU dan Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH. Maman Imanul Haq — Anggota Komisi VIII DPR RI, H. Oleh Soleh, S.H. — Anggota Komisi I DPR RI, Prof. Dr. Suyitno — Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Nahlah Al-Sa'eedy — Direktur Urusan Mahasiswa Asing Universitas Al-Azhar Mesir, dan A.E. Mr. Amr Ahmed Mokhtar — Wakil Duta Besar Mesir untuk Indonesia

Kiai Imam Jazuli berpesan agar para mahasiswa berpikiran besar untuk menjadi bagian penting dari perubahan Indonesia masa depan.

“Jangan hanya belajar untuk belajar tetapi tidak berdampak untuk perubahan Indonesia. Jangan juga meniru orang-orang yang telah mendapatkan beasiswa dari LPDP namun tidak kembali, padahal beasiswa itu berasal dari pajak rakyat,” tegasnya.

Beliau mengingatkan agar para mahasiswa konsisten untuk menjaga dasar-dasar ideologis negara Indonesia dan mengingatkan jangan tergiur oleh pemikiran yang bertentangan dengan perjuangan para ulama yang telah menghasilkan negara Indonesia.

“Pancasila diperas dari nilai-nilai Islam dan diterima oleh semua agama yang isinya sangat dibutuhkan oleh semua orang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan,” jelas beliau.

Menurut pengasuh pesantren Bina Insan Mulia itu, masalah yang dihadapi bangsa Indonesia terletak di implementasi, bukan di landasan ideologis, dan itu bersumber dari orang-orang yang bermasalah.

“Karena itu, lulusan Al-Azhar harus memainkan berbagai peranan strategis di pembangunan Indonesia. Jangan semua jadi ustadz, kiai, atau peranan-peranan yang kurang menentukan arah dan muatan pembangunan. Harus ada yang jadi legislator, bupati, hakim, saintis, dan seterusnya,” tegas Kiai Imam Jazuli.

Sementara itu, KH. Maman dari Komisi VIII berpesan agar Forkapmi tidak hanya sampai memberangkatkan calon mahasiswa, tetapi juga melindungi dan mendampingi selama di Mesir.

“Bahkan dengan kemajuan teknologi hari ini, Forkapmi dapat menciptakan aplikasi yang dapat menjembatani hubungan antara mahasiswa dan keluarga. Bahkan ketika kalian pulang nanti, Forkapmi telah menyediakan lahan perjuangan di berbagai peranan dan posisi,” kata Kang Maman.

Prof. Dr. Suyitno dari Kementerian Agama menginformasikan bahwa kerja sama G-to-G antara Indonesia dan Mesir baru saja diperbaruhi sehingga keberadaan mahasiswa mendapatkan payung hukum yang lebih kuat.

Kepada mahasiswa yang akan berangkat, Dirjen Pendis itu berpesan agar mereka belajar dari para senior yang telah berhasil, mampu melewati proses yang berliku menuju keberhasilan, dan terus menambah kualitas diri.

Bertindak mewakili kampus Al-Azhar, Prof. Dr. Nahlah Al-Sa'eedy menyatakan bahwa Universitas Al-Azhar memberikan perhatian penuh kepada mahasiswa asing karena mereka menyebarkan misi Al-Azhar di negara masing-masing.

sumber : Antara