Nasional

BPBD Lumajang tambah 8 CCTV perkuat pemantauan Gunung Semeru

BPBD Lumajang tambah 8 CCTV perkuat pemantauan Gunung Semeru

Lumajang, Jawa Timur (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, menambah delapan unit kamera pengawas atau CCTV untuk memperkuat pemantauan aktivitas Gunung Semeru guna mendukung keselamatan masyarakat di kawasan rawan bencana.

"Kami menambah delapan unit CCTV dan menyiagakan personel di sejumlah titik strategis, serta memperkuat sistem peringatan dini guna mengantisipasi perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Semeru," kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lumajang Isnugroho, di Lumajang, Kamis.

Menurut dia, delapan CCTV tersebut tersebar di kawasan hunian tetap (huntap) penyintas erupsi Gunung Semeru terletak di kawasan Bumi Semeru Damai (BSD) yang berada di Desa Sumbermujur, area Daerah Aliran Sungai (DAS) Bondeli, area Gladak perak sebelum jembatan, area Gladak perak setelah jembatan, KM 56 Piket Nol, KM 57 Piket Nol, Bukit Sriti dan Watu lapis di Desa Sumberurip.

Perangkat pemantauan tersebut diarahkan untuk mengawasi kondisi gunung, daerah aliran sungai (DAS), serta jalur Piket Nol yang berpotensi mengalami longsor. Informasi visual itu menjadi salah satu dukungan bagi petugas dalam mengamati perkembangan kondisi lapangan.

"Penguatan sarana pemantauan dilakukan dengan menambah delapan unit CCTV baru untuk melengkapi tujuh unit yang telah terpasang sebelumnya, sehingga BPBD Lumajang kini memiliki 15 unit CCTV untuk mendukung pemantauan visual Gunung Semeru dan sejumlah kawasan yang memiliki potensi kerawanan," katanya.

Ia mengatakan bahwa berdasarkan pemantauan kondisi masyarakat yang berada di luar zona bahaya masih aman dan terkendali, namun kesiapsiagaan terus diperkuat melalui koordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta pemerintah desa yang berada di lereng Gunung Semeru.

"Kami terus berkoordinasi dengan PVMBG dan pemerintah desa untuk memastikan tidak ada warga yang beraktivitas di dalam radius bahaya sesuai rekomendasi yang sudah ditentukan seiring dengan status Siaga Gunung Semeru," ujarnya.

Selain sarana pemantauan, BPBD juga menyiagakan personel di Pos Curahkobokan dan Pos Oro-Oro Ombo, kemudian penguatan sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) serta kesiapan logistik juga dilakukan untuk mendukung langkah antisipasi apabila terjadi kondisi darurat.

"Saya menegaskan bahwa kesiapan personel dan perangkat pemantauan perlu berjalan beriringan dengan kepatuhan masyarakat terhadap rekomendasi keselamatan," tuturnya.

Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak. Aktivitas juga dilarang dalam radius lima kilometer dari kawah karena berpotensi terdampak lontaran material vulkanik.

Warga yang beraktivitas di sekitar aliran sungai juga diminta menjauhi jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang aliran lahar. Masyarakat juga diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan abu vulkanik.

"Ikuti arahan petugas di lapangan dan informasi resmi dari BPBD maupun PVMBG. Kewaspadaan dan kepatuhan masyarakat terhadap rekomendasi keselamatan menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko bencana," ujarnya.

Melalui penambahan perangkat pemantauan, kesiapan personel, dan penguatan sistem peringatan dini, BPBD Kabupaten Lumajang terus memperkuat upaya mitigasi bencana. Namun, keselamatan masyarakat juga sangat bergantung pada kedisiplinan mematuhi zona bahaya dan mengikuti informasi resmi dari petugas.