Ekonomi

Dukung Swasembada Pangan, Hutama Karya Garap 4 Proyek Irigasi

Dukung Swasembada Pangan, Hutama Karya Garap 4 Proyek Irigasi

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Hutama Karya (Persero) menandatangani empat kontrak infrastruktur sumber daya air di tiga provinsi dalam sepekan. Kontrak tersebut tersebar di Kepulauan Bangka Belitung, Sulawesi Barat, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Penandatanganan berlangsung bertahap pada 27 Oktober hingga 2 November 2026. Pekerjaannya meliputi pembangunan embung, rehabilitasi saluran irigasi, dan jaringan irigasi air tanah.

Plt. Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya Hamdani menyampaikan bahwa bagi petani di ketiga daerah, tujuan infrastruktur ini adalah memenuhi pasokan air yang lebih pasti untuk lahan pertanian. Menurut dia, seluruh pekerjaan sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan pangan dan air.

Dia menjelaskan bahwa ketiga daerah tersebut menghadapi persoalan air yang berbeda sehingga bentuk infrastrukturnya pun tidak sama. Di Bangka Belitung, air hujan ditampung melalui embung sementara di Sulawesi Barat, saluran yang ada diperbaiki agar air sampai ke sawah. Adapun di NTT, air diambil dari dalam tanah melalui sumur bor.

Kontrak pertama diteken bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) Bangka Belitung, Selasa (27/10/2026). Kontrak ditandatangani Plt. EVP Divisi Infrastruktur I Hutama Karya Arif Rahman dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Air Tanah dan Air Baku BWS Bangka Belitung Heru Gunawan Apriadi.

Melalui kontrak ini, Hutama Karya akan membangun Embung Air Asam dan Embung Mucuk. Embung Air Asam berada di Desa Jangkang, Kecamatan Dendang, Kabupaten Belitung Timur. Adapun Embung Mucuk terletak di Desa Penutuk, Kecamatan Lepar Pongok, Kabupaten Bangka Selatan.

"Lahan pertanian di kedua lokasi menghadapi sejumlah kendala. Air laut merembes ke sumber air tawar. Bekas tambang timah juga membatasi pemanfaatan lahan sawah. Wilayah ini pun rentan terhadap banjir dan kekeringan. Embung dibangun untuk menampung air hujan sebagai cadangan air tawar," jelas Hamdani dikutip Jumat (6/11/2026).

Pekerjaan Embung Air Asam meliputi bangunan embung, bangunan pelimpah, dan bangunan pengambilan (intake). Di Embung Mucuk, pekerjaannya mencakup galian dan tanggul, pasangan batu tubuh bendung, serta bangunan pintu.

Embung Mucuk akan melayani Daerah Irigasi (DI) Penutuk Timur seluas sekitar 59 hektare. Embung ini juga menyuplai air baku bagi 8.144 jiwa di empat dusun. Sementara itu, Embung Air Asam akan mengairi sekitar 40 hektare lahan pertanian.

Dua hari berselang, Hutama Karya meneken kontrak rehabilitasi jaringan irigasi bersama BWS Sulawesi V di Mamuju, Sulawesi Barat, Kamis (29/10). Penandatanganan kontrak dihadiri oleh Plt. SVP Departemen Konstruksi II Divisi Infrastruktur I Hutama Karya Herdy Setiawan dan PPK Irigasi dan Rawa I Husni Bastian Syukur Poendei.

Pekerjaan meliputi perbaikan saluran sepanjang 8,52 kilometer dengan pasangan batu belah dan plesteran. Saluran itu melayani 576 hektare sawah, antara lain di DI Maroangin, DI Buttu Lepong, DI Tondok Bakaru, dan DI Lara.

Paket di Sulawesi Barat menyasar jaringan irigasi kewenangan pemerintah daerah dengan penanganan sejalan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2025 yang mengatur percepatan pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi untuk swasembada pangan. Melalui kebijakan tersebut, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) ikut membenahi saluran milik daerah.

Rangkaian penandatanganan ditutup di Kupang, Senin (2/11/2026) di mana Hutama Karya meneken dua kontrak pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) bersama BWS Nusa Tenggara II. Paket I berlokasi di Kabupaten Timor Tengah Utara, sedangkan Paket II di Kabupaten Sikka. Kontrak ditandatangani oleh Plt. EVP Divisi Infrastruktur I Arif Rahman bersama dua PPK Pendayagunaan Air Tanah dan Penyediaan Air Baku (PAT dan PAB) yakni Daud Wadu Djami untuk Paket I dan Frits Irwan Yan Maramis untuk Paket II.

JIAT memanfaatkan air tanah untuk mengairi lahan yang jauh dari sumber air permukaan. Ruang lingkupnya meliputi pengeboran sumur, rumah pompa, dan reservoir berkapasitas 50 meter kubik.

"Pekerjaan juga mencakup menara tandon air, bangunan boks bagi, jaringan pipa, serta pemasangan pompa. Air dari sumur dipompa ke tandon, lalu dialirkan melalui pipa ke lahan pertanian," ungkap Hamdani.

Di seluruh proyek tersebut, Hutama Karya berperan sebagai penyedia jasa konstruksi. Pengguna jasa Hutama Karya adalah balai wilayah sungai di bawah Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PU.

Rangkaian kontrak ini menambah portofolio BUMN konstruksi tersebut di sektor sumber daya air. Sebelumnya, Hutama Karya juga menangani rehabilitasi irigasi di wilayah Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, BBWS Cimanuk dan BBWS Citanduy.

Hamdani menyampaikan bahwa rangkaian kontrak ini menegaskan keterlibatan perusahaan dalam pembangunan infrastruktur sumber daya air. Menurutnya, infrastruktur air untuk pertanian termasuk pekerjaan yang manfaatnya cepat dirasakan masyarakat.

"Setiap daerah punya persoalan air sendiri. Di Belitung dan Lepar, airnya perlu ditampung. Di Sulawesi Barat, salurannya perlu dibenahi. Di NTT, airnya diambil dari dalam tanah. Apa pun bentuknya, kami ingin semuanya tuntas dengan mutu terjaga dan keselamatan kerja sebagai prioritas," ujarnya.

Ia menambahkan, perusahaan akan terus berkoordinasi dengan Kementerian PU, balai wilayah sungai, dan pemerintah daerah selama pekerjaan berlangsung. Ia berharap infrastruktur yang dibangun dapat dimanfaatkan petani dalam jangka panjang.

Menurutnya, air yang tersedia sepanjang tahun akan membuat musim tanam lebih pasti, sejalan dengan komitmen pembangunan berkelanjutan Hutama Karya.

[Gambas:Video CNBC]