Ekonomi

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,47%, Lampaui Ekspektasi Pasar

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,47%, Lampaui Ekspektasi Pasar

Liputan6.com, Jakarta - mencatatkan laju pertumbuhan yang melampaui perkiraan pada triwulan III-2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,47 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada periode Juli–September 2026.

Capaian tersebut melaju lebih kencang dibandingkan pertumbuhan kuartal II-2026 yang sebesar 5,29 persen. Hasil ini juga sukses melampaui konsensus ekonom dalam jajak pendapat yang memproyeksikan pertumbuhan di level 5,18 persen.

Secara kuartalan (quarter-to-quarter), ekonomi nasional tumbuh 1,59 persen. Dengan demikian, secara kumulatif sepanjang Januari hingga September 2026, ekonomi Indonesia tercatat tumbuh solid di angka 5,45 persen.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, lonjakan konsumsi pemerintah menjadi salah satu mesin utama penopang pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2026 yang tumbuh mencapai 8,95 persen (yoy). Angka ini meningkat signifikan dibanding periode sama tahun lalu yang sebesar 5,66 persen.

"Pada dua kuartal ini, yakni triwulan II dan III, belanja pemerintah ditingkatkan. Belanja tersebut menjadi bagian dari konsumsi melalui program-program unggulan pemerintah, termasuk MBG dan KDKMP," kata Airlangga, Sabtu (7/11/2026).

Selain belanja negara, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang paling dominan dengan kontribusi sebesar 51,97 persen terhadap PDB nasional. Sektor ini tumbuh 5,04 persen, relatif stabil jika dibandingkan dengan pencapaian kuartal II-2026 yang sebesar 5,06 persen.

Kinerja sektor eksternal turut menunjukkan perbaikan. Ekspor barang dan jasa tumbuh 4,59 persen pada kuartal III, menanjak dari kuartal sebelumnya yang sebesar 4,13 persen. Peningkatan ekspor produk kelapa sawit dan lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara menjadi pendorong utama, di tengah laju impor yang melambat menjadi 7,31 persen.

Lonjakan Investasi hingga Tantangan Penimbunan Stok

Dari sisi pembentukan modal, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,06 persen. Data Bank Indonesia menunjukkan peningkatan investasi ini didorong oleh pertumbuhan komponen kendaraan bermotor serta tingginya realisasi investasi dari sektor pemerintah maupun swasta.

Ekonom Bank Danamon Irman Faiz menilai permintaan domestik pada kuartal III-2026 bergerak lebih kuat dari perkiraan, sementara tekanan dari sektor eksternal kian berkurang.

Meski demikian, geliat ekonomi nasional masih membayangi sejumlah catatan penting. Data BPS mengindikasikan adanya peningkatan persediaan barang (inventory) di beberapa sektor usaha.

Ekonom Bank Permata Faisal Rachman menganalisis, fenomena kenaikan stok tersebut mencerminkan langkah antisipasi pelaku usaha terhadap risiko gangguan rantai pasok energi dan pangan. Kenaikan persediaan paling mencolok terlihat pada unit kendaraan yang belum terjual, baik mobil maupun sepeda motor.

Di sisi lain, isu sentimen investor terkait arah kebijakan fiskal serta gangguan aktivitas ekonomi akibat kebakaran hutan dan kabut asap di sejumlah daerah masih menjadi perhatian pasar.

Optimisme Cetak Rekor Tertinggi Sejak 2013

Merespons capaian positif triwulan III, Bank Danamon merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 menjadi 5,35 persen dari semula 5,20 persen, meski mengantisipasi kemungkinan normalisasi laju pertumbuhan pada kuartal IV.

Pemerintah sendiri tetap optimistis ekonomi Indonesia mampu menutup tahun 2026 dengan pertumbuhan di rentang 5,4 hingga 5,5 persen. Jika target ini terealisasi, perekonomian Indonesia akan mengukir pencapaian pertumbuhan tahunan tertinggi dalam kurun waktu 13 tahun terakhir atau sejak 2013.