Jakarta, CNBC Indonesia - Mantan pakar kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) Google, Nate Soares, meyakini perkembangan teknologi AI berpotensi menyebabkan kepunahan umat manusia dalam waktu dekat. Bahkan, peneliti machine learning tersebut mengaku sudah berhenti menyisihkan uang untuk masa pensiun sejak sekitar satu dekade lalu karena kekhawatirannya terhadap ancaman AI.
Melansir New York Post, Soares memperkirakan kemungkinan AI memicu kepunahan manusia dalam 10 tahun ke depan mencapai lebih dari 50%. Ia menyampaikan pandangan tersebut dalam sebuah episode podcast bersama CEO The Atlantic, Nicholas Thompson, yang membahas risiko perkembangan kecerdasan buatan terhadap masa depan manusia.
"Saya kira saat ini tampaknya kita mungkin tidak punya waktu satu dekade lagi," ujar Soares dalam podcast tersebut. Ia bahkan menilai probabilitas bahwa manusia tidak akan bertahan hingga 10 tahun mendatang sudah lebih dari 50%.
Keyakinan tersebut turut memengaruhi keputusan finansial pribadinya, termasuk dalam mempersiapkan masa pensiun. Soares mengungkapkan dirinya sudah tidak lagi menabung untuk pensiun selama kurang lebih 10 tahun terakhir.
"Saya sekarang tidak menabung untuk pensiun. Saya memiliki rekening dari masa ketika bekerja di Google, tetapi saya sudah tidak menyetor kontribusi ke sana selama sekitar satu dekade," kata Soares.
Soares diketahui pernah bekerja sebagai software engineer di Google dan Microsoft. Saat ini, ia menjabat sebagai presiden Machine Intelligence Research Institute (MIRI), organisasi nirlaba yang berbasis di Berkeley dan dikenal aktif mengangkat risiko pengembangan AI terhadap keberlangsungan umat manusia.
Pandangan tersebut berkaitan dengan konsep yang dikenal sebagai AI doomerism, yakni keyakinan bahwa pengembangan AI supercerdas berpotensi berujung pada kepunahan manusia. Kelompok yang memiliki pandangan ini menilai teknologi AI yang melampaui kecerdasan manusia dapat berkembang menjadi ancaman serius apabila tidak mampu dikendalikan.
Dalam wawancara tersebut, Soares membandingkan kekhawatiran terhadap kepunahan akibat AI dengan ancaman perang nuklir. Menurut dia, meskipun manusia kini menghadapi kemungkinan kehancuran secara bersamaan, kehidupan tetap harus dijalani sambil melakukan berbagai upaya pencegahan.
"Ini mungkin pertama kalinya kita hidup di bawah bayang-bayang kemungkinan seluruh manusia mati sekaligus. Namun, secara pribadi, kita selalu hidup di bawah bayang-bayang wabah penyakit dan perang," ujarnya.
Ia menambahkan, manusia perlu melakukan segala hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi ancaman tersebut, sekaligus tetap menjalani kehidupan dengan baik. Soares juga menegaskan bahwa kepunahan manusia akibat AI bukan sesuatu yang menurutnya pasti terjadi.
AI Disebut Bisa Melampaui Kemampuan Manusia
Dalam perbincangan tersebut, Thompson turut menyampaikan keraguannya terhadap kemungkinan AI memusnahkan seluruh umat manusia. Ia menyoroti bahwa teknologi AI paling canggih saat ini masih memiliki berbagai keterbatasan dan belum mampu menyelesaikan seluruh jenis pekerjaan secara sempurna.
Menanggapi hal itu, Soares mengibaratkan perkembangan AI seperti kemunculan mobil yang secara bertahap menggantikan peran kuda. Menurut dia, pada masa awal perkembangan mobil, kuda mungkin dapat melihat berbagai keterbatasan teknologi tersebut dan menganggapnya belum mampu menggantikan kemampuan mereka.
"Kita bisa membayangkan banyak kuda melihat perkembangan mobil dan berkata, 'Masih banyak hal yang belum bisa dilakukan mobil'," ujar Soares. Namun, ia menilai kemampuan AI terus meningkat, termasuk dalam menyelesaikan tugas-tugas yang semakin panjang dan kompleks.
Soares juga menegaskan bahwa kekhawatirannya bukan berfokus pada kemungkinan AI menggantikan pekerjaan manusia secara massal. Ia justru menganggap risiko terbesar adalah kemungkinan teknologi tersebut menyebabkan kepunahan seluruh umat manusia.
"Saya bukan orang yang khawatir akan kiamatnya lapangan pekerjaan akibat AI. Saya adalah orang yang khawatir AI akan membunuh seluruh manusia," katanya.
Soares menambahkan bahwa jika ancaman yang dikhawatirkannya benar-benar terjadi, manusia justru akan berada dalam kondisi tingkat pekerjaan penuh sesaat sebelum seluruh umat manusia musnah. Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa menurutnya, ancaman AI jauh melampaui persoalan pengangguran akibat otomatisasi.
Ini Solusi Cegah AI Musnahkan Manusia
Untuk mencegah risiko tersebut, Soares mengusulkan agar pengembangan AI, khususnya dalam hal peningkatan skala atau kemampuan teknologi (scaling up), dibatasi. Menurut dia, pemanfaatan AI untuk kebutuhan tertentu seperti membantu menemukan obat kanker masih dapat diterima.
Namun, ia menilai upaya mengembangkan AI agar mampu meniru sekaligus melampaui kecerdasan manusia merupakan arah pengembangan yang seharusnya tidak dikejar. "AI yang berusaha meniru dan melampaui kecerdasan manusia bukanlah sesuatu yang kita inginkan. Kita seharusnya tidak mengejar hal tersebut," ujarnya.
(dce)[Gambas:Video CNBC]