Kamojang pernah merasakan dekatnya api
Jakarta (ANTARA) - Pelong hanya memiliki satu mata. Elang brontok itu sudah kehilangan mata kanannya sebelum tiba di Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK), Garut, Jawa Barat, dan sejak itu pandangannya hanya menjangkau satu sisi.
Namanya lahir dari kekurangan tersebut, yakni dari ungkapan Sunda "teu bisa melong", tak bisa melihat. Namun, yang menyimpang justru tabiatnya. Setiap kali ada manusia yang berkunjung ke kandang edukasi di PKEK, Pelong merapat ke balik kawat, mendekat. Lalu, dia mengambil sikap paling waspada, dengan tatapan yang begitu tajam melihat manusia, hendak menyerang.
Petugas bilang, tujuan Pelong adalah menerkam makanan, sebagaimana yang selalu dilihatnya ada pada majikannya dulu. Elang sebagai seekor pemangsa puncak, semestinya menghindari manusia, tetapi Pelong malah menghampiri seperti anjing peliharaan yang meminta makanan.
Kebiasaan ganjil itu peninggalan pemilik lamanya. Pelong dijinakkan terlalu lama hingga naluri liarnya terkikis.
Di kandang edukasi PKEK, ia menghuni ruang yang sama dengan elang-elang lain yang bernasib serupa: cacat permanen, tak lagi layak dilepasliarkan, dan kini menjadi bahan ajar bagi para pengunjung. Tujuannya untuk mengedukasi. Agar manusia merenung. Mereka bisa berdampak pada kerusakan tubuh dan hidup satwa, khususnya elang yang dilindungi.
Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, yang diperingati setiap 5 November, berpijak pada Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 1993. Keppres itu menetapkan melati sebagai puspa bangsa dan elang jawa sebagai satwa langka nasional, dua nama yang hingga kini akrab di buku pelajaran dan lembar soal ujian.
Elang jawa yang dihafal di ruang kelas itu ikut dirawat di Kamojang, sebagian di antaranya dengan sayap yang tak lagi utuh.
Hampir setiap pelajar di negeri ini sanggup menyebut puspa dan satwa nasional tanpa berpikir panjang. Pengetahuan itu berharga, tetapi kerap berhenti di atas kertas. Gejala ini disebut extinction of experience.
Yang lebih dulu lenyap adalah pengalaman manusia bersentuhan dengan alam, jauh sebelum spesies satwa itu sendiri yang punah. Anak yang tumbuh tanpa perjumpaan cenderung mengenal margasatwa sebagai gambar, nama Latin, atau tontonan singkat di layar gawai.
Jarak yang terlampau jauh melahirkan ketidakpedulian. Sebaliknya, jarak yang terlampau dekat, dengan cara yang keliru, melahirkan luka.
Jacky, elang bondol penghuni kandang yang bertetanggaan dengan kandang Pelong, patah sayap karena pemilik lamanya mencambuk setiap kali burung itu enggan kembali ke tangan. Tymu, seekor elang jawa, ditemukan di dalam kardus di depan gerbang PKEK pada 2018, layaknya manusia membuang anak-anak kucing yang baru lahir. Tymu dibuang dengan sayap kanan yang rusak permanen. Keduanya korban hasrat untuk memiliki.