JAKARTA -- Fregat kelas Istanbul buatan Turki menjadi salah satu kapal perang yang dipertimbangkan Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) dalam kajian pengadaan kapal tempur permukaan generasi berikutnya. Perkembangan tersebut menarik perhatian karena Indonesia telah lebih dahulu menandatangani kontrak pengadaan dua fregat dari kelas yang sama untuk memperkuat armada TNI Angkatan Laut.
Kajian Amerika Serikat dijadwalkan memasuki tahapan penting pada 12 November 2026, ketika Departemen Pertahanan AS harus menyampaikan rencana pengadaan kapal tempur permukaan kepada Gedung Putih. Rancangan fregat Istanbul dari Turki masuk dalam daftar yang sedang dipertimbangkan bersama kapal kelas Mogami dari Jepang dan Chungnam dari Korea Selatan.
Laporan USNI News pada 1 September 2026 mengungkapkan bahwa Gedung Putih dan Angkatan Laut AS sedang mempertimbangkan rancangan kapal perang dari sejumlah negara sekutu. Informasi mengenai kandidat tersebut diperoleh dari tiga sumber industri yang mengetahui pembahasan program pengadaan kapal perang Amerika.
Namun, pemerintah AS belum mengumumkan pemilihan rancangan kapal ataupun keputusan membeli fregat Istanbul. Tenggat 12 November merupakan batas penyampaian kajian dan rencana pengadaan, bukan tanggal yang telah ditetapkan untuk mengumumkan pemenang kontrak.
Perkembangan terbaru lainnya muncul pada 23 Oktober 2026 ketika lembaga riset pertahanan Amerika, Center for Naval Analyses (CNA), menerbitkan analisis mengenai fregat Jepang dan Korea Selatan. Kajian tersebut menempatkan kapasitas persenjataan, kecepatan produksi, kemampuan integrasi sistem, serta kesesuaian operasional dengan armada AS sebagai pertimbangan penting.
Sementara Washington masih mengevaluasi sejumlah pilihan, Indonesia sudah melangkah lebih jauh dalam pengadaan kapal perang Turki. Kementerian Pertahanan Republik Indonesia telah menandatangani kontrak dengan konsorsium galangan kapal TAIS Shipyards untuk dua fregat kelas İstif atau Istanbul pada 26 Juli 2025.
Kesepakatan Indonesia kemudian mendapat perkembangan lanjutan melalui keterlibatan perusahaan pertahanan Qatar, Barzan Holdings, pada Januari 2026. Namun, rincian mekanisme pembiayaan dan konfigurasi akhir kedua kapal belum seluruhnya diumumkan secara terbuka.
Trump Buka Peluang Pengadaan Kapal Perang Asing
Langkah Amerika Serikat mempertimbangkan fregat Istanbul merupakan bagian dari perubahan pendekatan pembangunan armada militernya. Pemerintah AS sedang mencari cara mempercepat pengadaan kapal perang setelah sejumlah program domestik mengalami keterlambatan dan peningkatan biaya.
Presiden Donald Trump pada 13 Agustus 2026 menandatangani memorandum berjudul Rebuilding the United States Navy and America's Shipbuilding Industrial Base. Dokumen tersebut mengarahkan pemerintah memperkuat industri galangan kapal nasional dengan memanfaatkan rancangan, teknologi, dan kapasitas produksi negara mitra.
Dalam memorandum itu, Trump memperkenalkan pendekatan yang dikenal sebagai Finland Model. Model tersebut memungkinkan kerja sama dengan galangan asing untuk membangun sejumlah kapal awal, kemudian melanjutkan produksi di Amerika Serikat.
Berdasarkan ketentuannya, galangan asing dapat membangun paling banyak dua kapal pertama dalam kelas yang menggunakan mekanisme tersebut. Kapal berikutnya harus dibangun di Amerika Serikat setelah perusahaan mitra memenuhi persyaratan investasi, pengembangan tenaga kerja, dan transfer teknologi.
Pemasok asing diwajibkan membangun galangan baru atau mengambil kepemilikan maupun saham mayoritas pada fasilitas yang telah ada di AS. Mereka juga harus melatih pekerja Amerika dan mengembangkan rantai pasok domestik untuk mendukung pembangunan serta pemeliharaan kapal.
Kebijakan tersebut tidak otomatis menghapus seluruh pembatasan hukum mengenai pembangunan kapal perang AS di luar negeri. Pelaksanaan kontrak tetap harus memenuhi persyaratan kepentingan keamanan nasional, pemberitahuan kepada Kongres, dan ketentuan anggaran yang berlaku.
Memorandum Gedung Putih juga menetapkan tenggat 90 hari untuk penyampaian rencana pengadaan baru kapal tempur permukaan. USNI News menyebut kajian yang dikoordinasikan Angkatan Laut AS tersebut dijadwalkan selesai pada 12 November 2026.
Mengapa Fregat Istanbul Masuk Pertimbangan Amerika?
Fregat kelas Istanbul merupakan salah satu produk utama program kapal perang nasional Turki yang dikenal sebagai MİLGEM. Kapal tersebut dikembangkan sebagai penerus korvet kelas Ada dengan ukuran lebih besar dan kemampuan persenjataan yang diperluas.
Program Istanbul menjadi bagian dari strategi Turki untuk meningkatkan kemandirian industri pertahanan maritim. Pengembangannya melibatkan perusahaan STM, galangan kapal nasional, serta sejumlah produsen radar, rudal, dan sistem elektronik Turki.
Kapal pertama dari kelas tersebut adalah TCG Istanbul dengan nomor lambung F-515. Menurut STM, kapal tersebut diserahkan kepada Angkatan Laut Turki pada 19 Januari 2024 setelah menyelesaikan proses pembangunan dan pengujian.
Berbeda dari korvet kelas Ada, fregat Istanbul dirancang memiliki kemampuan pertahanan udara dengan rudal yang diluncurkan melalui sistem peluncuran vertikal. Kapal juga dapat menjalankan operasi antikapal permukaan, antikapal selam, pengawasan maritim, dan perlindungan jalur pelayaran.
Menurut spesifikasi STM, fregat kelas Istanbul memiliki panjang 113,2 meter dan lebar maksimum 14,4 meter. Bobot perpindahan airnya sekitar 3.150 ton, dengan kecepatan maksimum lebih dari 29 knot.
Jangkauan pelayaran kapal mencapai sekitar 5.700 mil laut pada kecepatan jelajah 14 knot berdasarkan data produsen. Kemampuan tersebut memungkinkan kapal menjalankan operasi jarak jauh, meskipun daya tahan aktual dipengaruhi kondisi laut, persediaan bahan bakar, dan kebutuhan misi.
Sistem penggerak fregat menggunakan konfigurasi combined diesel and gas atau CODAG. Kombinasi mesin diesel dan turbin gas tersebut dirancang untuk menyesuaikan kebutuhan tenaga dengan kecepatan serta karakteristik pelayaran.
Kapal juga memiliki fasilitas dek penerbangan dan hanggar untuk mendukung operasi helikopter. Kehadiran helikopter memperluas kemampuan pengawasan serta mendukung kegiatan pencarian sasaran di luar jangkauan pengamatan langsung kapal.
Rudal ATMACA dan Sistem Pertahanan Udara MİDLAS
Kekuatan persenjataan menjadi salah satu aspek penting dari pengembangan fregat Istanbul. Turki mengintegrasikan rudal antikapal ATMACA, sistem peluncuran vertikal MİDLAS, meriam kapal, dan perangkat pertahanan jarak dekat ke dalam rancangan tersebut.
ATMACA merupakan rudal antikapal yang dikembangkan perusahaan pertahanan Turki, Roketsan. Pada konfigurasi TCG Istanbul, kapal dilengkapi 16 rudal ATMACA yang ditempatkan dalam empat kelompok peluncur.
Untuk pertahanan udara, Turki mengembangkan MİDLAS sebagai sistem peluncuran rudal vertikal nasional. Kapal pertama kelas Istanbul menggunakan 16 sel peluncur yang dikonfigurasikan untuk mendukung penggunaan rudal pertahanan udara keluarga HİSAR-D.
STM mengumumkan keberhasilan pengujian penembakan rudal HİSAR-D RF melalui MİDLAS pada Maret 2024. Pengujian tersebut menjadi tonggak penting karena menunjukkan integrasi sistem peluncur, radar, dan manajemen tempur buatan Turki pada kapal perang nasional.
Fregat Istanbul juga dilengkapi sistem pertahanan jarak dekat GÖKDENİZ produksi Aselsan. Perangkat tersebut menggunakan meriam otomatis kaliber 35 milimeter untuk menghadapi ancaman tertentu yang mendekati kapal.
Persenjataan lainnya mencakup meriam utama kaliber 76 milimeter, dua sistem senjata otomatis kaliber 25 milimeter, dan perangkat peluncur torpedo ringan. Kombinasi persenjataan tersebut ditujukan untuk mendukung operasi kapal dalam berbagai situasi pertahanan maritim.
Namun, kemampuan setiap sistem senjata dipengaruhi konfigurasi, jenis amunisi, perangkat penargetan, serta kondisi operasional. Karena itu, jumlah rudal atau kaliber meriam tidak cukup untuk menentukan efektivitas keseluruhan sebuah fregat.