JAKARTA – Direktur Utama Ashoka Asia Tenggara, Nani Zulminarni, menilai salah satu tantangan terbesar dalam mengembangkan inovasi sosial di Indonesia saat ini adalah kuatnya budaya instan di ruang digital. Kondisi tersebut dinilai turut mengubah cara masyarakat, khususnya generasi muda, dalam memandang kesuksesan.
Menurut Nani, Sebagian anak muda kini lebih banyak mengejar popularitas dan pengakuan melalui media sosial dibandingkan terlibat langsung dalam menyelesaikan persoalan di lingkungan sekitarnya.
“Tantangan terbesar sekarang itu kita bersaing dengan narasi narasi dan ruang digital yang memberikan tawaran instan,” kata Nani dalam konferensi pers Gaharu Bumi Innovation Challenge (GBIC) 2026 di Ke Ruang Bersama, Cikini, Jakarta, Jumat (6/11/2026).
Dia mengatakan, aktivitas anak muda di ruang digital, termasuk menjadi konten kreator, bukan sesuatu yang keliru. Namun, menurut dia, perlu ada upaya untuk menghubungkan aktivitas tersebut dengan persoalan nyata di masyarakat.
Nani menilai keberhasilan seseorang seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah pengikut, popularitas, ataupun penghasilan yang diperoleh memalui media sosial. Lebih dari itu, seseorang juga perlu melihat sejauh mana dirinnya dapat memberikan perubahan bagi lingkungan sekitar.
Pandangan tersebut sejalan dengan misi Ashoka, yakni membangun gerakan Everyone a Changemaker atau setiap orang adalah pembuat perubahan. Melalui gerakan tersebut, Ashoka ingin mendorong masyarakat menyadari bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk menciptakan perubahan.
Salah satu Upaya yang dilakukan yakni melalui GBIC 2026. Program tersebut menjadi wadah untuk menemukan berbagai inovasi yang lahir dari pengalaman dan persoalan yang dihadapi masyarakat.