Liputan6.com, Jakarta - Inovasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/) yang kian pesat kerap memicu kecemasan di sektor dasar dan menengah.
Muncul kekhawatiran AI akan menyuburkan praktik kecurangan di kalangan siswa, sekaligus mengikis peran pendidik di masa depan. Namun, narasi ancaman tersebut kini mulai bergeser menjadi peluang integrasi teknologi secara adaptif.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI menggarisbawahi bahwa kehadiran AI tidak akan mereduksi signifikansi figur pendidik.
Teknologi diakui ampuh menjawab berbagai pertanyaan normatif, tetapi tetap memiliki keterbatasan fundamental dalam pembentukan karakter peserta didik.
"Tidak sedikit guru yang bertanya dalam hati, apakah saya masih dibutuhkan? Kami meyakini guru justru makin dibutuhkan," ujar Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen RI, Nunuk Suryani, dalam keterangannya, Minggu (8/11/2016).
Ia menilai AI bisa menjawab pertanyaan, tapi tidak bisa menumbuhkan karakter. Teknologi adalah alat, guru tetap menjadi jantung pendidikan.
Menjawab tantangan tersebut, lembaga edukasi ORBIT Edutech--warisan dari B.J. Habibie dan Hasri Ainun Habibie--menggelar Festival Guru 2026 pada 7–8 November 2026. Perhelatan edisi keempat ini secara khusus mengusung fokus pemanfaatan AI untuk mentransformasi metode pembelajaran.
Chairman Orbit Edutech, Ilham A. Habibie, menyatakan eksistensi AI merupakan realitas yang tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, tenaga pendidik dituntut untuk responsif dan beradaptasi guna mengoptimalkan potensi teknologi dalam proses belajar-mengajar.
"Di program ini kami berharap guru-guru dapat belajar cara beradaptasi dengan memanfaatkan AI dalam proses pendidikan dan pembelajaran," ungkap Ilham.
Inisiatif ini menarik antusiasme tinggi di lapangan. Sebanyak lebih dari 5.000 guru yang tersebar di 314 kabupaten/kota di Indonesia berpartisipasi aktif mempelajari penerapan AI secara praktis.
Partisipasi massal ini melesatkan total akumulasi peserta Festival Guru sejak perdana digelar pada 2023 hingga menembus angka lebih dari 29.000 pendidik.
AI Tak Gantikan Peran Manusia
Guna memberikan pembekalan yang relevan, agenda yang disokong Bank BRI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini menghadirkan 16 pakar serta praktisi tingkat nasional.
Materi yang disajikan dirancang aplikatif untuk kebutuhan harian pengajar, salah satunya topik “Rahasia Prompt AI Yang Membuat Persiapan Mengajar Selesai Dalam Hitungan Menit” yang dibawakan oleh CEO Brainmatics, Romi Satrio Wahono.
Melalui penguasaan instruksi (prompt) dan alur kerja AI yang tepat, ribuan guru tersebut kini siap mengefisiensikan beban administrasi mengajar.
Langkah ini membuktikan bahwa alih-alih menggantikan peran manusia, AI justru menjadi alat bantu strategis yang memperkuat kapabilitas guru di era digital.