Ekonomi

Harga Minyak Turun ke US$93 Usai Partai Republik Kalah Pemilu Sela AS

Harga Minyak Turun ke US$93 Usai Partai Republik Kalah Pemilu Sela AS
Jakarta, CNN Indonesia

mentah dunia turun lebih dari 1 persen pada perdagangan awal Kamis (5/11). Pelemahan ini didorong oleh ekspektasi pasar akan kekalahan  pimpinan Presiden Amerika Serikat (AS) dalam Pemilu sela AS.

Kekalahan Partai Republik diharapkan akan menekan eskalasi perang antara AS-Israel melawan Iran.

Berdasarkan laporan Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent turun 97 sen atau 1,03 persen menjadi US$93,65 per barel pada pukul 02.11 GMT atau 09.11 WIB. Sementara itu, minyak mentah berjangka US West Texas Intermediate (WTI) turun US$1,14 atau 1,29 persen ke level US$86,98 per barel.

Imbas kekalahan partainya, Trump kini harus berhadapan dengan Kongres yang dikuasai oleh Partai Demokrat. Dengan posisi yang kini melemah itu, opsi militer Negeri Paman Sam diproyeksikan akan lebih terbatas.

Dua sumber Reuters yang dekat dengan lingkaran pemerintahan negara-negara Teluk pada Rabu (4/11) mengungkap dinamika politik ini memberikan dorongan lebih besar bagi Trump untuk mencari kesepakatan damai.

Menurut sumber tersebut, kemungkinan serangan skala penuh terhadap Iran kini tampaknya makin kecil.

Potensi resolusi konflik ini diyakini mampu memulihkan aliran pasokan minyak dari Timur Tengah.

Merespons proyeksi tersebut, Analis Minyak Senior Sparta Commodities June Goh menilai pasar saat ini tengah menakar ulang langkah pemerintahan AS ke depan.

"Pasar sedang menakar dampak pemilu paruh waktu (midterm elections) terhadap langkah Trump selanjutnya terkait perang Iran dan memperhitungkan peluang yang lebih besar bagi berakhirnya perang tersebut," ujar June Goh.

Kendati demikian, ia mengingatkan volatilitas harga masih akan membayangi ke depannya. Sebab, jalan menuju diplomasi penuh masih sarat ketidakpastian, sedangkan cadangan strategis global sudah sangat menipis.

Sejalan dengan ekspektasi meredanya ketegangan, indikator pasokan fisik mulai menunjukkan tren pemulihan.

Sejumlah analis melaporkan pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz telah pulih mendekati tingkat sebelum perang, meskipun dibarengi dengan biaya operasional yang lebih tinggi.

Kembali normalnya pasokan dari kawasan Teluk tersebut praktis mendorong pasar minyak global kembali mengalami surplus.

Dalam catatan yang dirilis pada Rabu, JPMorgan memperkirakan pasar mencatat surplus pasokan sebesar 1,1 juta barel per hari (bph) pada September.

Angka tersebut kian melebar menjadi 1,4 juta bph pada Oktober, yang hampir menyamai rata-rata surplus tahun lalu sebesar 1,3 juta bph.

Meski dibayangi sentimen kelebihan pasokan dan meredanya tensi geopolitik, aksi jual tajam (sell-off) yang menekan harga minyak ini diyakini tidak akan berlangsung lama.

CEO perusahaan konsultan energi XAnalysts, Mukesh Sahdev, menepis anggapan harga akan terus tertekan pascapemilu AS.

"Jawaban singkatnya adalah tidak," ujarnya merespons proyeksi harga rendah.

Sahdev beralasan risiko geopolitik masih sangat sulit diprediksi. Anggota kongres baru dari Partai Demokrat baru akan resmi menjabat pada Januari 2027, sehingga tidak akan ada perubahan mendadak pada opsi kebijakan militer dan luar negeri AS saat ini.

Di sisi lain, ia mengingatkan Iran bisa saja merespons hasil pemilu AS ini dengan tekad perlawanan yang lebih agresif.

Lebih lanjut, pandangan Sahdev mengenai kerentanan pasar turut ditopang oleh minimnya ketersediaan stok fisik. Persediaan minyak komersial di negara-negara konsumen utama dunia saat ini tengah berada di titik terendahnya dalam 15 tahun terakhir.

Fakta tersebut selaras dengan rilis data Badan Informasi Energi AS (EIA) pada Rab, yang melaporkan persediaan minyak mentah, bensin, dan distilat AS secara keseluruhan kembali merosot pada pekan lalu seiring melonjaknya angka permintaan ke level tertinggi dalam setahun.