Politik

Hotspot Karhutla Nasional Naik Jadi 338 Titik, Kalteng Tertinggi

Hotspot Karhutla Nasional Naik Jadi 338 Titik, Kalteng Tertinggi

JAKARTA — Jumlah titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia naik menjadi 338 titik. Kementerian Kehutanan mencatat kenaikan tersebut berdasarkan pemantauan satelit hingga Kamis (5/11/2026) pukul 21.00 WIB. Sehari sebelumnya, jumlah hotspot tercatat sebanyak 215 titik.

Dari enam provinsi yang menjadi prioritas pengendalian karhutla, Kalimantan Tengah mencatat jumlah hotspot tertinggi, yakni 85 titik. Sementara itu, Kalimantan Selatan mencatat satu titik. Adapun Jambi, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, dan Riau tidak terdeteksi hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi.

Lonjakan paling besar terjadi di Kalimantan Tengah. Jumlah hotspot di provinsi tersebut meningkat dari 37 menjadi 85 titik dalam sehari.

Dalam pernyataannya, Jumat (6/11/2026) Kementerian Kehutanan mengatakan mereka memperkuat patroli, pengecekan lapangan, pemadaman, dan pembasahan lahan untuk mengantisipasi kebakaran meluas. Pengawasan juga difokuskan pada lahan gambut yang masih berpotensi menyimpan bara api di bawah permukaan.

Berdasarkan laporan Posko Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan pada 5 November, pemadaman masih berlangsung di Tanjung Taruna dan Jabiren, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Di Tanjung Taruna, petugas masih menemukan banyak kepulan asap. Sementara itu, api di Jabiren belum sepenuhnya padam.

Kedua lokasi tersebut merupakan lahan gambut yang mengalami kebakaran di permukaan dan bawah tanah. Kondisi ini membuat petugas harus melakukan pemadaman dan pendinginan secara berulang untuk memastikan bara api tidak kembali menyala.

Prosesi pemakaman Kapten CPN (Anumerta) Nurhafiz Akbar Rizki Hartio (34 tahun) di Taman Makam Pahlawan (TMP) Giri Tunggal, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (5/11/2026). Nurhafiz merupakan satu dari tiga korban yang gugur dalam kecelakaan helikopter MI-17V5 saat melaksanakan misi pemadaman<a href= karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, pada Rabu (4/11/2026). (Kamran Dikarma)" />
Prosesi pemakaman Kapten CPN (Anumerta) Nurhafiz Akbar Rizki Hartio (34 tahun) di Taman Makam Pahlawan (TMP) Giri Tunggal, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (5/11/2026). Nurhafiz merupakan satu dari tiga korban yang gugur dalam kecelakaan helikopter MI-17V5 saat melaksanakan misi pemadaman karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, pada Rabu (4/11/2026). (Kamran Dikarma) - (Kamran Dikarma/Republika)

Kementerian mengatakan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni meninjau langsung penanganan karhutla ke Kalimantan Tengah. Pada Kamis kemarin, Raja Juli tiba di Bandara Iskandar, Pangkalan Bun, untuk menerima laporan perkembangan penanganan kebakaran sekaligus insiden kecelakaan helikopter Mi-17V5.

Helikopter milik TNI Angkatan Darat tersebut mengalami kecelakaan pada 4 November saat menjalankan misi pengeboman air (water bombing) untuk membantu pemadaman karhutla di sekitar Taman Nasional Tanjung Puting.

Raja Juli menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya para kru dalam menjalankan misi kemanusiaan tersebut. Ia juga memastikan kru yang selamat mendapatkan penanganan medis terbaik.

Sementara itu, pemadaman karhutla di Sumatera Selatan tetap berlangsung meskipun tidak terdeteksi hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi. Petugas masih menangani kebakaran di Pulau Geronggang dan Talang Rimba, Kabupaten Ogan Komering Ilir. Api di Talang Rimba belum padam dan membutuhkan pemadaman lanjutan. Adapun kebakaran di Pulau Kabai, Kabupaten Ogan Ilir, telah dinyatakan padam.

Kemenhut mengungkapkan pemadaman di Desa Sepaso Timur, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, juga masih berlangsung. Hingga laporan terakhir, api di lokasi tersebut belum sepenuhnya padam.

Operasi pengendalian karhutla melibatkan Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, Masyarakat Peduli Api, dunia usaha, dan relawan. Kegiatan meliputi patroli, pengecekan lapangan, pemadaman langsung, pembasahan lahan, penyisiran bara, hingga pendinginan.

Kementerian Kehutanan menjelaskan, hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20. Data tersebut tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran ataupun luas lahan yang terbakar.

Setiap indikasi hotspot harus diverifikasi langsung di lapangan. Sebaliknya, tidak adanya hotspot juga tidak selalu berarti api telah padam. Karena itu, pemantauan satelit perlu disertai pemeriksaan kondisi di lokasi kebakaran. Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat dan pelaku usaha tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. n Lintar Satria