Jakarta (ANTARA) - Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) kini makin sering melanda kelompok usia muda, terutama mahasiswa dan pekerja pemula. Maraknya kebiasaan mengonsumsi kopi di tengah tingginya tekanan aktivitas sehari-hari menciptakan kombinasi pemicu yang memperbesar risiko gangguan pencernaan ini.
1. Peran stres dalam memicu gejala GERD
Secara biologis, stres memicu respons fight-or-flight yang mengganggu keseimbangan sumbu otak-usus (brain-gut axis). Saat tubuh mengalami stres kronis, hormon kortisol dan adrenalin meningkat.
Hal ini memicu persepsi hipersensitivitas pada kerongkongan, sehingga paparan asam lambung dalam jumlah kecil sekalipun terasa sangat menyakitkan. Selain itu, stres menurunkan laju pengosongan lambung dan melemahkan tekanan katup kerongkongan bawah (Lower Esophageal Sphincter atau LES), yang memudahkan asam naik ke atas.
2. Efek kopi dan kafein terhadap asam lambung
Kopi mengandung kafein serta senyawa asam terlarut yang dapat memicu relaksasi otot LES. Ketika katup LES mengendur, cairan asam dari lambung dengan mudah terdorong ke kerongkongan.
Kandungan asam dalam kopi juga merangsang sel parietal lambung untuk memproduksi lebih banyak asam klorida (HCl), yang berisiko memperparah iritasi dinding lambung dan esofagus.
3. Sinergi segitiga: stres, kopi dan GERD usia muda
Gaya hidup usia muda sering kali membentuk lingkaran setan. Tekanan tugas, tenggat waktu kerja, dan kurang tidur menimbulkan stres. Untuk menjaga fokus dan stamina, kopi kerap dijadikan solusi instan.
Asupan kafein yang berlebihan pada tubuh yang sedang tertekan semakin memicu kecemasan dan mengganggu pola tidur, yang pada akhirnya memicu peningkatan produksi asam lambung secara intensif, demikian mengutip studi National Library of Medicine tentang hubungan kopi, stres, dan kesehatan anak muda Indonesia.