Ekonomi

IHSG Melesat 3%, 4 Saham BUMN Ini Jadi Penopang Utama

IHSG Melesat 3%, 4 Saham BUMN Ini Jadi Penopang Utama

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat tajam pada sesi I perdagangan Kamis (5/11/2026). Pada pukul 09:21 WIB, IHSG berada di level 5.069,33, naik 149,56 poin atau 3,04%. Indeks dibuka di level 4.998,34, dengan titik terendah 4.995,46 dan titik tertinggi 5.072,05.

Aktivitas perdagangan hingga saat itu tercatat sebanyak 54,98 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp2.246,11 miliar.

Di balik reli tersebut, saham-saham perusahaan milik negara (BUMN) tampil sebagai penopang utama.


Berdasarkan data Refinitiv pukul 09.37 WIB, PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menjadi kontributor terbesar dari kelompok BUMN dengan menyumbang 14,95 poin atau 0,30% terhadap indeks. Saham BBRI diperdagangkan di level Rp2.760 per saham.

PT. Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) menyusul sebagai kontributor terbesar kedua dari kelompok pelat merah dengan sumbangan 10,82 poin atau 0,21%. Saham TLKM berada di Rp2.010 per saham.

Dua bank BUMN lainnya juga masuk daftar sepuluh besar pendorong indeks. PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menyumbang 7,92 poin atau 0,16% di level Rp3.670, sedangkan PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) menyumbang 4,91 poin atau 0,10% di level Rp3.280.

Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2026, perkembangan pasar modal, serta rencana perluasan bantuan BPJS Kesehatan.

Berikut sentimen dan perkembangan penting yang perlu dicermati pelaku pasar.

1. Pemilu AS, Trump dan Republik Kalah Telak

Partai Demokrat berjanji memanfaatkan kemenangan telak dalam pemilu paruh waktu (midterm elections) untuk membatasi kekuasaan Presiden Donald Trump.

Kemenangan ini membuka peluang kebuntuan politik di Washington selama dua tahun ke depan. Sementara itu, dalam penampilan publik pertamanya setelah pemilu, Trump justru memamerkan proyek pembangunan ballroom di Gedung Putih.

Demokrat berhasil merebut kendali Senat dan DPR AS setelah meraih kemenangan di sejumlah basis kuat Partai Republik. Gelombang kemarahan publik terhadap kebijakan Trump, terutama perang AS-Iran yang memperburuk inflasi dan biaya hidup, menjadi salah satu pendorong utama kemenangan tersebut.

2. Defisit Perdagangan AS Menyusut

Defisit perdagangan Amerika Serikat (AS) menyusut tipis menjadi US$105 miliar pada September 2026, dari US$105,7 miliar pada Agustus. Angka ini juga lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar US$108 miliar.

Penyusutan defisit ditopang oleh ekspor yang melonjak 1,9% menjadi US$321,5 miliar, tertinggi dalam lima bulan. Kenaikan ekspor terutama berasal dari komputer, kedelai, minyak mentah, aksesori komputer, pesawat sipil, dan produk farmasi. Namun, ekspor emas nonmoneter mengalami penurunan.

3. Data Tenaga Kerja AS

Sektor swasta Amerika Serikat (AS) menambah 86.000 tenaga kerja pada Oktober 2026, melampaui ekspektasi pasar sebesar 69.000 pekerjaan. Angka ini juga menyamai kenaikan pada September yang telah direvisi lebih rendah. Perekrutan tenaga kerja masih solid selama dua bulan berturut-turut, dengan perusahaan dari berbagai skala bisnis mencatat penambahan karyawan.

Dari sisi sektor, penyerapan tenaga kerja terbesar terjadi pada perdagangan, transportasi, dan utilitas yang bertambah 39.000 pekerjaan. Sektor pendidikan dan kesehatan menyusul dengan 28.000 pekerjaan, sementara rekreasi dan perhotelan menambah 19.000 pekerjaan.

Namun, sektor jasa profesional dan bisnis justru kehilangan 27.000 pekerjaan untuk bulan ketiga berturut-turut. Sektor sumber daya alam dan pertambangan juga berkurang 8.000 pekerjaan, sedangkan sektor informasi turun 2.000 pekerjaan.

4. Harga MInyak Jatuh

Harga minyak mentah dunia ambruk lebih dari 8% pada perdagangan Rabu (4/11/2026), menyentuh level terendah dalam lebih dari dua bulan.

Pelemahan terjadi setelah Partai Republik pimpinan Presiden Donald Trump kehilangan kendali atas Kongres AS dalam pemilu paruh waktu. Investor menilai perubahan kekuasaan politik ini dapat memperbesar tekanan terhadap Trump untuk mengakhiri perang AS-Israel melawan Iran.

Harga minyak Brent anjlok 8,7% ke US$94,62 per barel, sementara minyak WTI merosot 8,3% ke US$88,12 per barel. Keduanya mencatatkan penutupan terendah sejak 31 Agustus.

Kekalahan Partai Republik membuat posisi politik Trump melemah. Dengan Demokrat menguasai DPR dan Senat, ruang gerak militer pemerintah AS berpotensi semakin terbatas sehingga peluang negosiasi damai dengan Iran dinilai meningkat.

5. Pertumbuhan PDB Indonesia Kuartal III 2026

Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2026 pada hari ini Kamis (5/11/2026), pukul 11:00 WIB.

Berdasarkan konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dari 15 lembaga/institusi, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan mencapai 5,20% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal III-2026.

Sementara secara kuartalan, ekonomi diproyeksi masih tumbuh 1,33% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter to quarter/qtq).

6. Rapat DK OJK

Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan menggelar konferensi pers mengenai kondisi sektor keuangan terkini.

Menarik dicermati apa saja yang akan disampaikan OJK, terutama data terkait kesehatan pasar modal dan perbankan Indonesia.

Perlu disimak juga apakah OJK akan mengeluarkan aturan atau kebijakan baru di akhir tahun untuk membangkitkan pasar modal Indonesia yang terpuruk.

7. Zona Euro Rilis Inflasi Produsen September 2026

Zona Euro dijadwalkan merilis data Producer Price Index (PPI) atau inflasi harga produsen periode September 2026 pada hari ini, Kamis (5/11/2026) pukul 17.00 WIB.

Berdasarkan Trading Economics, harga produsen Zona Euro pada Agustus 2026 meningkat 8,2% secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih tinggi dibandingkan 5,8% pada Juli dan melampaui ekspektasi pasar sebesar 8,1%. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak Februari 2023.

Bagi pelaku pasar, data PPI menjadi indikator penting untuk mengukur tekanan inflasi dari sisi produksi yang berpotensi diteruskan ke harga konsumen. Jika inflasi produsen tetap tinggi, ekspektasi terhadap kebijakan moneter ketat Bank Sentral Eropa (ECB) dapat menguat. Sebaliknya, perlambatan PPI berpotensi meredakan kekhawatiran inflasi dan memengaruhi pergerakan euro serta pasar obligasi Eropa.

[Gambas:Video CNBC]