Politik

Jokowi-Kaesang Temui Massa Pendukung di Depan PN Jakarta Timur

Jokowi-Kaesang Temui Massa Pendukung di Depan PN Jakarta Timur
Jakarta, CNN Indonesia

Presiden ke-7 RI menyapa massa aksi pendukungnya saat persidangan tudingan ijazah palsu di area luar Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis (5/11).

Pantauan CNNIndonesia.com, Jokowi keluar dari kompleks PN Jakarta Timur sekitar Pukul 12.40 WIB.

Jokowi yang mengenakan batik bernuansa cokelat dipadu dengan topi putih di kepala menyapa para pendukungnya di area luar PN Jaktim.

Jokowi didampingi ajudannya, AKBP Syarif Muhammad. Terhitung, Jokowi hanya berada di luar Kompleks PN Jaktim sekitar lima menit, pada 12.45 WIB, ia telah memasuki kembali Kompleks PN Jaktim.

Sebelum Jokowi, putra bungsunya yang juga Ketum PSI, Kaesang Pangarep juga sempat menemui massa aksi. Ia menyapa massa aksi sekitar 10 menit sebelum Jokowi.

Pada Kamis (5/11), Jokowi hadir sebagai saksi ke persidangan tudingan ijazah palsu yang masih bergulir. Ia hadir dengan didampingi kedua anaknya, Kahiyang Ayu dan Kaesang Pangarep.

Dalam persidangan ini, Jokowi menyatakan dirinya merasa direndahkan atas tudingan ijazah palsu yang dilontarkan oleh Roy Suryo Cs.

"Kerugian immaterial karena tercemarnya nama baik saya dan juga keluarga saya, dan kemudian saya juga merasa telah dihina, direndahkan dengan amat sangat," kata Jokowi.

Mengutip hasil survei terkini sikap masyarakat terhadap isu ijazah palsu ini. Ia menyebut 18 persen masyarakat percaya bahwa ijazahnya palsu.

Ia pun mengatakan bahwa angka itu bukanlah jumlah yang kecil, dampaknya Jokowi merasa tuduhan itu turut mengurangi kepercayaan publik terhadapnya.

"Betul, Yang Mulia. 34 juta orang percaya, Yang Mulia, bahwa tuduhan palsu tuduhan ijazah palsu ini telah mengurangi kepercayaan publik terhadap saya, Yang Mulia," ujar dia.

Selain itu, Jokowi juga merasa sangat tertuduh atas tudingan yang disampaikan Roy Suryo Cs itu.

Ia menyebut tuduhan itu membuatnya dituding menggunakan ijazah palsu untuk berkontestasi di berbagai kontestasi politik.

"Kemudian yang ketiga juga saya merasa juga dituduh menggunakan ijazah palsu untuk mencalonkan diri sebagai wali kota dua kali, gubernur sekali, dan presiden dua kali, Yang Mulia," ucap dia.