Nasional

Kades dari Kalimantan belajar pengelolaan lingkungan di Sekardangan

Kades dari Kalimantan belajar pengelolaan lingkungan di Sekardangan
Pengelolaan lingkungan di tingkat desa perlu ditempatkan sebagai bagian dari agenda pembangunan berkelanjutan

Surabaya (ANTARA) - Puluhan kepala desa yang tergabung dalam Ikatan Kerukunan Kepala Desa (IKKD) Kecamatan Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, mempelajari berbagai inovasi pengelolaan lingkungan di Kampung Edukasi Sampah Kelurahan Sekardangan, Sidoarjo.

Salah satunya mempelajari instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal yang mengolah air dari saluran selokan untuk selanjutnya dimanfaatkan kembali sebagai air penyiraman tanaman.

"Inovasi IPAL yang mampu mengolah air limbah rumah tangga untuk dimanfaatkan kembali untuk penyiraman air menjadi hal menarik yang perlu dipelajari lebih lanjut dan berpotensi diterapkan di desa-desa Kecamatan Bati-Bati," kata Lastri, pendamping rombongan kepala desa di Sidoarjo, Jumat.

Dalam kesempatan itu, pegiat lingkungan Kampung Edukasi Sampah Kelurahan Sekardangan Edi Priyanto menekankan pengelolaan lingkungan di tingkat desa perlu ditempatkan sebagai bagian dari agenda pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

"Pemahaman mengenai SDGs tidak boleh berhenti di tingkat pemerintah pusat maupun kabupaten/kota, tetapi harus diterjemahkan hingga ke tingkat pemerintahan desa. Sebab, desa merupakan ujung tombak pembangunan sekaligus ruang paling dekat dengan kehidupan masyarakat," ujarnya.

Selama ini, Kampung Edukasi Sampah di Sekardangan Sidoarjo tidak sekadar membiasakan warganya membuang sampah pada tempatnya. Lebih dari itu, kawasan ini mengembangkan sistem pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat melalui prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R).

Sampah organik diolah melalui berbagai metode, seperti komposter aerob, Takakura, dan tong aerob. Pengolahan juga dilakukan melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) serta penggunaan mesin pencacah sampah organik.

Untuk sampah anorganik, warga mengembangkan Bank Sampah Telulikur sebagai sarana pemilahan sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan nilai jual sampah.

Selain IPAL komunal, inovasi lainnya meliputi hidroponik, sumur resapan, dan pemanfaatan energi terbarukan melalui panel surya.

"Berbagai fasilitas tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan dapat dilakukan secara terintegrasi, mulai dari pengelolaan sampah, air, energi, hingga penghijauan dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat," ucap Edi.