Politik

Kemenpar sebut Indonesia unggul dalam 5 pilar penilaian TTDI 2026

Kemenpar sebut Indonesia unggul dalam 5 pilar penilaian TTDI 2026

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pariwisata menyatakan bahwa dunia mengakui keunggulan Indonesia melalui lima pilar penilaian Travel and Tourism Development Indonesia (TTDI) yang dikeluarkan oleh World Economic Forum (WEF) pada tahun 2026.

"Ini terlihat berdasarkan data Travel and Tourism Development Indonesia (TTDI) yang dikeluarkan oleh World Economic Forum (WEF) pada tahun ini," kata Juru Bicara Kementerian Pariwisata Nia Niscaya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.

Nia menjelaskan keunggulan itu terlihat dari pilar Prioritas Pariwisata dan Teknologi (Prioritization of T&T) yang menduduki peringkat 1, Daya Saing Harga (Price Competitiveness) di urutan 5, Sumber Daya Alam (Natural Resources) di posisi 9, Sumber Daya Budaya (Cultural Resources) di peringkat 15 dan Dampak Sosial Ekonomi (Socioeconomic Impact) di urutan 15.

Menurut Nia, meski Indonesia memiliki kesamaan dengan sejumlah negara di kawasan ASEAN dan dapat menumbuhkan rasa kedekatan terutama melalui alam dan budaya, pariwisata di Indonesia akan berbeda dengan negara lain.

"Nafasnya pariwisata kan keunikan ya, tapi unik bukan berarti tidak serupa. Bisa saja serupa, tapi pasti ada keunikan masing-masing," ujar dia.

Selain dari alam dan budayanya, Nia juga menyatakan hal yang membedakan Indonesia dengan negara lain adalah keramahtamahan (hospitality). Contohnya, ketika menyajikan kopi pada para turis, biasanya para pekerja di sektor pariwisata akan memberikannya sambil menyapa dengan senyuman.

Hal ini menjadi salah satu perilaku yang telah menjadi budaya dalam berinteraksi dengan warga asing.

Sebelumnya, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan Indonesia mencatatkan skor 4,56 dalam Travel and Tourism Development Index (TTDI) 2026, dengan posisi kedua di Asia Tenggara dan keenam di kawasan Asia Pasifik.

"Peringkat TTDI 2026 juga meningkat dengan skor 4,56, menempatkan Indonesia pada posisi kedua di Asia Tenggara dan keenam di Asia Pasifik," ujar Widiyanti.

Berbagai capaian tersebut perlu menjadi momentum bagi pemerintah dan pelaku industri untuk terus meningkatkan kualitas layanan, memperluas konektivitas, serta memastikan pembangunan pariwisata berjalan secara berkelanjutan dan inklusif.

Oleh karenanya, dia mengajak seluruh pelaku usaha dan asosiasi untuk mempersiapkan destinasi, layanan, dan penyelenggaraan kegiatan pariwisata dalam menyambut periode libur akhir tahun dan awal tahun mendatang.

Kesiapan tersebut mencakup peningkatan kualitas pelayanan, keselamatan dan kenyamanan wisatawan, pengelolaan destinasi, serta keterlibatan masyarakat dan pelaku usaha lokal dalam rantai ekonomi pariwisata.
Sementara menurut data Passenger Exit Survey (PES) yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) di tahun 2024, aktivitas perjalanan wisatawan mancanegara didominasi oleh wisata seni dan kuliner, wisata bahari, wisata budaya dan religi.