Politik

Mendikdasmen: Bahasa Inggris SD tak perlu ketat soal grammar

Mendikdasmen: Bahasa Inggris SD tak perlu ketat soal grammar
Titik tekan dari program ini bukanlah pada ekspertis dalam Bahasa Inggris bagi anak-anak, tetapi lebih kepada mengenalkan dasar-dasar dan juga menumbuhkan rasa cinta untuk anak-anak belajar Bahasa Inggris

Jakarta (ANTARA) - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengingatkan pembelajaran Bahasa Inggris pada jenjang kelas 3 SD harus mengutamakan pengenalan dasar bahasa dan menumbuhkan kecintaan anak terhadap Bahasa Inggris, bukan kemahiran tata bahasa (grammar).

"Titik tekan dari program ini bukanlah pada ekspertis dalam Bahasa Inggris bagi anak-anak, tetapi lebih kepada mengenalkan dasar-dasar dan juga menumbuhkan rasa cinta untuk anak-anak belajar Bahasa Inggris," kata Mendikdasmen Abdul Mu’ti saat memberi arahan dalam Koordinasi dan Penandatangan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Bantuan Pemerintah Pengembangan Kompetensi Guru Sekolah Dasar dalam Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD MBI) di Jakarta pada Kamis.

Mendikdasmen mengatakan materi pembelajaran Bahasa Inggris perlu dirancang dengan mengedepankan prinsip pembelajaran mendalam yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful).

Dengan pendekatan tersebut, lanjutnya, pembelajaran dapat dilakukan melalui berbagai aktivitas menyenangkan, seperti menyanyikan lagu, menonton film, serta permainan yang dapat menstimulasi anak untuk belajar Bahasa Inggris.

Mendikdasmen juga mengarahkan agar guru tidak terlalu ketat dalam mengajarkan tata bahasa (grammar) maupun struktur kalimat (structure), karena pendekatan yang terlalu akademis berpotensi membuat anak bosan dan terbebani.

Menurutnya, pembelajaran Bahasa Inggris pada jenjang SD lebih diarahkan pada kemampuan menggunakan bahasa tersebut sebagai sarana komunikasi dan mengeksplorasi berbagai kemampuan berbahasa.

"Yang penting bagaimana mereka mampu menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi," ujar Mendikdasmen Abdul Mu'ti.

Ia menambahkan murid perlu didorong untuk aktif menulis dan menyampaikan pendapat melalui kemampuan berbicara (speaking). Kesalahan dalam penggunaan tata bahasa maupun ekspresi selama proses belajar, menurutnya, merupakan hal yang wajar.

"Salah grammar tidak apa-apa, namanya juga anak-anak. Bahkan kalau salah ekspresi juga tidak apa-apa. Yang penting maksudnya paham," kata Mendikdasmen Abdul Mu'ti.

Ia mencontohkan anak-anak mungkin mencampurkan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris ketika berkomunikasi, namun hal tersebut tidak perlu menjadi persoalan selama pesan yang disampaikan dapat dipahami dan tidak menimbulkan kesalahpahaman yang berarti.

Karena itu ia berharap pembelajaran Bahasa Inggris yang mulai diwajibkan pada jenjang pendidikan kelas 3 SD pada tahun ajaran 2027/2028 tersebut dapat menciptakan suasana yang menyenangkan sehingga murid memiliki motivasi untuk terus belajar dan berani menggunakan bahasa tersebut.