JAKARTA -- Banyak orang sering menganggap diri mereka malas atau kurang memiliki kemauan keras ketika terjebak dalam kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar ponsel, tidur seharian, atau justru bekerja tanpa henti. Kebiasaan tersebut sebenarnya bisa jadi merupakan bentuk avoidant coping, sebuah mekanisme pertahanan diri untuk menghindari atau melarikan diri dari emosi yang menyakitkan.
Ketika seseorang mengalami emosi yang bergejolak dan merasa tertekan, mereka cenderung mencari mekanisme koping sebagai bentuk pengalihan dari perasaan yang tidak nyaman. Meski kerap dimanfaatkan sebagai distraksi, mengatasinya dengan cara-cara seperti ini tidak serta-merta membuat kondisi emosional menjadi lebih baik. Tanpa penanganan yang tepat, perasaan tertekan tersebut justru dapat memburuk.
Untuk mencegah munculnya perasaan tidak nyaman, banyak orang akhirnya mengadopsi kebiasaan-kebiasaan negatif. Berdasarkan laporan dari organisasi kesehatan mental di India, Amaha, yang dipublikasikan pada 10 Oktober 2026, sebanyak 82,7 persen responden yang mulai menjalani perawatan melaporkan perilaku avoidant coping, seperti waktu layar (screen time) yang berlebihan, bekerja berlebihan (overworking), dan tidur berlebihan (oversleeping). Sementara itu, 43 persen responden menyebutkan bahwa mereka menggunakan strategi seperti berolahraga atau menulis jurnal.
Selain itu, banyak orang menunda untuk mencari bantuan profesional. Sebanyak 53 persen di antaranya telah hidup bersama kekhawatiran atau masalah kesehatan mental mereka selama lebih dari satu tahun sebelum akhirnya memutuskan mencari perawatan medis. Orang-orang yang awalnya menguraikan diri mereka mengalami stres, belakangan terdiagnosis mengidap depresi. Beberapa di antaranya bahkan mengalami pemikiran untuk menyakiti diri sendiri.
Temuan ini menunjukkan bahwa sekadar mengalihkan diri dari rasa sakit emosional ternyata tidak cukup. Kebiasaan yang dipilih mungkin bisa meredakan rasa sakit untuk sementara, tetapi kelegaan tersebut hanyalah bersifat sementara, dan mengandalkannya terus-menerus justru dapat menjebak seseorang dalam pola yang tidak sehat.
Psikiater dr Amit Malik, yang juga merupakan pendiri dan CEO Amaha Health, mengatakan rang-orang sering kali meraih kebiasaan-kebiasaan ini karena menawarkan semacam kelegaan dari perasaan yang sulit ditangani. Scrolling dapat mengalihkan kita dari rasa cemas. "Bertahan di tempat tidur dapat menunda hari yang terasa sangat berat. Bekerja dapat memberikan struktur dan rasa kendali ketika bagian lain dari kehidupan terasa tidak pasti," ujarnya dikutip dari laman Hindustan Times pada Ahad (8/11/2026).
Dalam bahasa yang lebih sederhana, avoidant coping adalah cara untuk mengalihkan diri dari pikiran atau perasaan yang tidak nyaman. Jika sedang terluka, seseorang mungkin akan terus memikirkan sesuatu dan merasa makin buruk. Beralih ke suatu kebiasaan menciptakan kelegaan sementara, sehingga orang tersebut cenderung merespons dengan mengulanginya kembali.
Kendati demikian, dr Malik mengingatkan agar masalah utama yang mendasarinya tidak dibiarkan tanpa penanganan. Mengakui adanya rasa sakit bisa menjadi langkah awal, tetapi tidak harus diselesaikan secara sekaligus.
"Mengambil jeda bisa jadi hal yang sehat. Kita tidak harus menghadapi setiap perasaan menyakitkan secara langsung saat itu juga. Kekhawatirannya adalah ketika pelarian sementara menjadi sebuah pola yang membuat kehidupan sehari-hari terasa lebih berat," kata dia.