Para ilmuwan menemukan meteorit Planet Mars yang diperkirakan usianya lebih dari 4,1 miliar tahun yang lalu. Setelah diteliti, mereka menyatakan Planet Mars pernah memiliki air miliaran tahun lalu sebelum akhirnya menjadi planet yang kering dan dingin seperti sekarang.
Menurut ilmuwan planet bidang Jet Propulsion Laboratory NASA California, Yang Liu, meteorit yang berwarna merah muda ini memiliki komposisi kimia unik dan berbeda dari meteorit mars lain yang sebelumnya pernah diteliti.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Science yang diterbitkan pada akhir Oktober lalu.
"Ini adalah meteorit Mars kuno yang sangat langka, dan memberi kita kesempatan untuk melihat kerak dan mantel awal mars, pada saat kehidupan baru dimulai di bumi," kata Yang Liu, seperti dikutip CNN, Sabtu (7/11).
Adapun, meteorit ini diberi nama Teghaza 001 karena sesuai dengan nama wilayah tempat ditemukannya, yaitu di sebuah dataran garam Teghaza, Mali, Afrika Barat. Meteorit ini sebetulnya sudah ditemukan sejak tahun 2022.
Teghaza 001 terdiri dari delapan fragmen dengan berat total 798,5 gram (1,76 pon), dengan fragmen terbesar memiliki berat 442 gram (0,97 pon).
Pada awalnya, Liu tidak tertarik meneliti Teghaza 001. Liu mengatakan, sampel Teghaza 001 sama saja dengan Shergottite, jenis meteorit planet mars yang pernah ia teliti sebelumnya.
Liu sebelumnya telah menganalisis beberapa Shergottit, kandungan yang membentuk hampir 90 persen dari koleksi meteorit Mars. Hasil analisis Shergottit secara umum menunjukkan usia lebih dari 600 tahun. Namun, akhirnya Liu setuju untuk menyelidiki sampel Teghaza 001.
Setelah diteliti, ternyata sampel meteorit Teghaza 001 berusia 400 tahun pertama sejak adanya planet Mars atau 4,1 miliar tahun yang lalu. Untuk mengonfirmasi perkiraan ini, Liu menggunakan sinar laser atau metode penentuan usia baru yang dikembangkan oleh mahasiswa doktoral di California Institute of Technology, Hayward Melton. Teknik ini dapat menganalisis butiran dan kristal kecil di dalam sampel meteorit.
"Metode ini menggunakan laser untuk menguapkan bagian sampel yang sangat kecil, alih-alih melarutkan bagian yang lebih besar," kata Melton.
Selain itu, dalam hasil temuannya, Liu menyebut, Teghaza 001 menandakan jejak air di Mars karena terdapat zirkon, yaitu sejenis kristal yang terbentuk ketika batuan cair mendingin.
"Zirkon seperti kapsul waktu yang memungkinkan kita untuk menentukan secara tepat usia pembentukan batuan," kata Liu.
Sementara itu, melalui metode sinar laser yang dikembangkan Melton, sampel Teghaza 001 memiliki komposisi unik karena pernah bersentuhan dengan air saat masih berada di kerak Mars miliaran tahun yang lalu.
Teghaza 001 disebut mengandung sebagian besar dua mineral kaya kalsium serta isotop oksigen dengan jumlah yang belum pernah ditemukan pada sampel meteorit sebelumnya.
Setelah mempelajari Teghaza 001, para ilmuwan kemudian sepakat untuk melanjutkan penelitian dengan mengidentifikasi 13 titik lokasi yang memungkinkan ditemukannya meteorit ini.