Nasional

Minum kopi saat perut kosong? Ini 5 dampaknya bagi tubuh

Minum kopi saat perut kosong? Ini 5 dampaknya bagi tubuh

Jakarta (ANTARA) - Minum kopi pada pagi hari sebelum sarapan sudah menjadi rutinitas bagi sebagian orang. Selain membantu mengurangi rasa kantuk, kopi kerap dikonsumsi untuk meningkatkan fokus sebelum memulai aktivitas.

Namun, kebiasaan ini dapat menimbulkan rasa tidak nyaman pada sebagian orang, terutama mereka yang sensitif terhadap kafein atau memiliki gangguan pencernaan.

Minum kopi saat perut kosong tidak serta-merta berbahaya bagi semua orang. Sebagian besar orang dapat menikmatinya tanpa mengalami masalah berarti. Meski demikian, kopi dapat merangsang produksi asam lambung dan memicu keluhan seperti mulas, sensasi terbakar di dada, mual, atau rasa tidak nyaman pada perut bagi orang tertentu.

Sejumlah penelitian mengenai hubungan kopi dengan gangguan pencernaan menunjukkan hasil yang beragam. Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan pada April 2026, yang mencakup 40 penelitian dengan total 122.074 peserta, menemukan hubungan antara konsumsi kopi dan peningkatan kecil kemungkinan mengalami penyakit refluks gastroesofageal (GERD).

Namun, hasil tersebut tidak membuktikan bahwa kopi menjadi penyebab langsung GERD pada setiap orang, terlebih secara khusus akibat diminum saat perut kosong.

1. Merangsang produksi asam lambung

Kopi dapat merangsang produksi asam lambung. Pada sebagian orang, kondisi ini dapat menimbulkan rasa perih atau tidak nyaman, terutama jika memiliki riwayat gangguan pencernaan.

Kafein dan sejumlah senyawa lain dalam kopi juga dapat memengaruhi fungsi saluran pencernaan. Respons tubuh setiap orang berbeda, sehingga ada orang yang tetap nyaman minum kopi sebelum makan, sementara yang lain merasakan keluhan setelah mengonsumsinya.

Meski begitu, belum ada bukti kuat bahwa minum kopi saat perut kosong secara langsung menyebabkan tukak lambung atau kerusakan lambung pada semua orang. Keluhan yang muncul perlu dilihat berdasarkan kondisi kesehatan dan sensitivitas masing-masing individu.

2. Memicu asam lambung naik pada orang tertentu

Kopi dan kafein dapat memicu atau memperburuk gejala refluks asam pada sebagian orang. Kondisi ini terjadi ketika isi lambung naik kembali ke kerongkongan dan menimbulkan sensasi terbakar di dada atau rasa asam di mulut.

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) memasukkan kopi dan minuman berkafein sebagai salah satu pemicu yang umum dikaitkan dengan gejala penyakit refluks gastroesofageal atau GERD. Meski demikian, pemicunya dapat berbeda pada setiap orang.

Orang yang sering mengalami sensasi terbakar di dada, rasa asam di tenggorokan, atau keluhan setelah minum kopi dapat mencoba mengurangi konsumsinya dan memperhatikan perubahan gejala.

3. Menyebabkan mual atau perut tidak nyaman

Pada sebagian orang, minum kopi sebelum makan dapat menimbulkan mual, mulas, atau rasa tidak nyaman di perut. Reaksi tersebut dapat dipengaruhi oleh sensitivitas terhadap kafein, jumlah kopi yang dikonsumsi, serta kondisi pencernaan.

Orang yang memiliki dispepsia atau gangguan pencernaan tertentu juga mungkin merasakan gejala yang memburuk setelah mengonsumsi minuman berkafein. NIDDK menyarankan agar penderita memperhatikan makanan dan minuman yang memicu keluhan, termasuk kopi jika terbukti memperburuk gejala.

Namun, keluhan tersebut tidak berarti semua orang harus menghindari kopi saat perut kosong. Jika tidak menimbulkan gejala, kebiasaan tersebut umumnya tidak menjadi masalah bagi orang dewasa yang sehat.

4. Membuat jantung berdebar dan memicu kecemasan

Selain memengaruhi pencernaan, kafein dapat memengaruhi sistem saraf. Konsumsi berlebihan atau sensitivitas terhadap kafein dapat menyebabkan jantung berdebar, gelisah, gemetar, mual, hingga gangguan tidur.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyebut konsumsi kafein hingga 400 miligram per hari umumnya tidak dikaitkan dengan efek negatif pada sebagian besar orang dewasa. Jumlah tersebut bukan batas yang cocok untuk semua orang karena respons tubuh dipengaruhi kondisi kesehatan, obat yang digunakan, berat badan, dan sensitivitas individu.

Jumlah kafein dalam secangkir kopi juga bervariasi menurut jenis biji, metode penyeduhan, ukuran sajian dan kekuatan seduhan. Karena itu, konsumsi kopi sebaiknya tidak hanya dihitung berdasarkan jumlah cangkir.

5. Merangsang keinginan buang air besar

Sebagian orang merasa ingin buang air besar tidak lama setelah minum kopi. Efek ini berkaitan dengan kemampuan kopi merangsang aktivitas saluran pencernaan.

Kopi dapat merangsang pelepasan hormon pencernaan dan meningkatkan gerakan usus pada sebagian orang. Efeknya tidak selalu sama, bahkan kopi tanpa kafein pun dapat memicu respons tersebut pada sebagian peminumnya.

Bagi sebagian orang, efek tersebut tidak mengganggu. Namun, jika minum kopi membuat buang air besar menjadi terlalu sering atau memicu diare, mengurangi jumlah konsumsi dan mengamati respons tubuh dapat membantu.

Cara menikmati kopi agar lebih nyaman bagi tubuh

Orang yang terbiasa minum kopi pada pagi hari tidak selalu harus menghentikan kebiasaan tersebut. Jika kopi saat perut kosong menimbulkan keluhan, ada beberapa langkah sederhana yang dapat dicoba.

Pertama, makan terlebih dahulu atau minum kopi bersama sarapan untuk melihat apakah keluhan berkurang. Kedua, kurangi ukuran sajian atau jumlah kopi harian, terutama jika sering mengalami jantung berdebar, gelisah atau sulit tidur. Ketiga, perhatikan tambahan gula, krimer, dan bahan lain yang dapat meningkatkan asupan kalori.

Bagi orang yang mengalami GERD atau gangguan pencernaan berulang, mencatat jenis minuman dan waktu munculnya gejala dapat membantu mengenali pemicu.

Jika keluhan terus berulang atau tidak membaik setelah perubahan kebiasaan, konsultasikan kepada tenaga kesehatan. Gejala seperti nyeri dada berat, muntah terus-menerus, sulit menelan, atau muntah darah perlu mendapatkan pemeriksaan medis.

Kebiasaan minum kopi saat perut kosong tidak otomatis membahayakan kesehatan. Dampaknya bergantung pada sensitivitas tubuh, jumlah kafein, dan kondisi pencernaan seseorang. Memperhatikan respons tubuh dan membatasi konsumsi sesuai toleransi menjadi langkah yang lebih tepat daripada menganggap kopi sebelum sarapan selalu berbahaya.