Jember, Jawa Timur (ANTARA) - Sejumlah pakar internasional dari sembilan negara merumuskan solusi strategis untuk menghadapi tantangan ketahanan pangan global melalui konferensi internasional yang digelar di Auditorium Universitas Jember (Unej), Jawa Timur.
Mengusung tema "Innovating industrial agriculture for sustainability, resilience and global food security", kegiatan The 7th International Conferences on Agriculture and Life Sciences (ICALS) and The 11th International Conference of Food, Agriculture, and Natural Resources (FANRes) itu diselenggarakan dalam rangka menguatkan pilar akademis pada peringatan Dies Natalis ke-62 Unej.
"Kehadiran para pakar internasional tersebut memperkuat komitmen akademik dan sinergi global demi memperkuat inovasi berkelanjutan. Kegiatan itu mempertemukan 162 peserta dari sembilan negara, seperti Thailand, Jepang, Korea Selatan, Prancis, Nepal, Pakistan, Aljazair, dan Indonesia," kata Dekan Fakultas Pertanian Unej Prof. M. Rondhi dalam keterangan tertulis yang diterima di Jember, Jumat.
Ia mengatakan partisipasi lintas negara itu mencerminkan komitmen bersama untuk memperkuat kolaborasi akademik, memajukan ilmu pengetahuan, serta merumuskan solusi inovatif dalam menjawab tantangan global di bidang pertanian, ketahanan pangan, ilmu kehidupan, dan pengelolaan sumber daya alam.
Unej mempertegas perannya dalam kancah akademik internasional dengan menyelenggarakan konferensi internasional bidang pertanian dan ilmu kehidupan. Konferensi internasional prestisius itu dirancang sebagai platform multidisiplin bagi para periset, akademisi, praktisi, pembuat kebijakan, dan pemangku kepentingan industri untuk berbagi pengetahuan, bertukar gagasan, serta mempresentasikan temuan mutakhir.
"Konferensi itu merupakan bagian dari komitmen universitas untuk mewujudkan visinya menjadi perguruan tinggi unggul dalam inovasi pertanian industrial berkelanjutan yang diakui secara internasional," kata Rondhi.
Menghadapi krisis pangan akibat perubahan iklim, gangguan rantai pasok, lonjakan populasi, serta keterbatasan sumber daya alam, Rektor Universitas Jember Dr Iwan Taruna mengatakan pentingnya arah riset dan kolaborasi lintas disiplin yang berdampak langsung pada pemenuhan kebutuhan masyarakat pedesaan hingga agroindustri nasional.
"Kecanggihan teknologi seperti kecerdasan buatan, pertanian presisi, bioteknologi, sensor, otomasi, dan pengolahan pangan tidak serta-merta menjamin kemajuan sosial jika tidak dirancang agar terjangkau, layak secara ekonomi, bertanggung jawab terhadap lingkungan, serta inklusif," katanya.
Oleh karena itu, lanjut dia, universitas memikul tanggung jawab besar untuk menjembatani riset dengan kebutuhan nyata melalui tiga prioritas utama yakni percepatan riset yang tanggap masalah, akselerasi inovasi dan alih pengetahuan, serta perluasan kerja sama internasional guna menghadirkan solusi konkret bagi ketahanan pangan global.
Konferensi internasional ini menghadirkan sejumlah pakar dan keynote speaker terkemuka dari berbagai institusi global yaitu Prof. Dr. Awang Ahmad Sallehin (Universiti Malaysia Sarawak), Dr. Orawan Srisompun (Mahasarakham University), Mr. Rajendra Aryal (FAO Representative/Country Director for Indonesia and Timor Leste), Dr. Joon-Yung Cha (Gyeongsang National University), Prof. Toyoshi Yoshiga, Ph.D. (Faculty of Agriculture, Saga University), dan Christian Cilas (Cirad Scientist).
Selain forum diseminasi riset, ICALS 2026 memberikan ruang publikasi berkualitas tinggi melalui peluang penerbitan pada prosiding terindeks Scopus (IOP Earth and Environmental Science), guna memastikan hasil riset yang dipresentasikan berdampak luas bagi pengembangan sains global.