Perserikatan Bangsa-Bangsa (ANTARA) - Kota Taiz di Yaman kini kehabisan barang-barang kebutuhan pokok akibat kendala akses, menurut peringatan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UN OCHA) pada Rabu (4/11).
Para pengangkut barang yang membawa tepung dan bahan pangan pokok lainnya yang menjadi pemasok pasar di Taiz telah menarik kembali truk-truk mereka ke kawasan Al-Farsha dan kini tertahan di sana, kata UN OCHA.
Akibatnya, harga barang kebutuhan pokok di kota tersebut melonjak hingga lima kali lipat, menurut UN OCHA.
Pengangkutan sampah juga terhenti karena truk-truk tidak dapat mencapai lokasi pembuangan. Tumpukan sampah terus bertambah di berbagai penjuru kota sehingga meningkatkan risiko penyakit, kata badan tersebut.
Hampir 310.000 orang telah mengungsi sejak terjadinya eskalasi dalam gelombang terbaru konflik pada awal Agustus, kata UN OCHA.
Mitra-mitra kemanusiaan terus menjangkau masyarakat yang membutuhkan bantuan di seluruh Yaman.
Sejak Agustus, hampir 190.000 orang telah menerima bantuan pangan dan hampir 140.000 orang memperoleh bantuan tunai darurat.
Mitra-mitra yang bergerak di bidang kesehatan juga telah menjangkau lebih dari 9.000 pengungsi melalui 60 tim keliling dan pos layanan kesehatan serta memberikan dukungan kepada 72 rumah sakit, papar UN OCHA.
Badan Pengungsi PBB menyatakan bahwa hampir 5.400 keluarga yang baru mengungsi telah terdaftar untuk menerima bantuan kemanusiaan berupa uang tunai, dan 4.200 keluarga di antaranya telah menerima bantuan tersebut.
Badan itu juga telah memberikan bantuan tunai untuk kebutuhan tempat tinggal kepada lebih dari 2.100 keluarga di kota Aden, Abyan, dan Lahj.
Selain itu, sebanyak 3.000 paket bantuan sedang dalam perjalanan menuju Aden.
Tempat tinggal masih menjadi kebutuhan mendesak. Sekitar 37.000 keluarga masih menunggu bantuan tempat tinggal, sementara 32.000 keluarga lainnya menanti bantuan perlengkapan rumah tangga dasar.
Sejak awal Agustus, sebanyak 28 lokasi penampungan pengungsi telah dibuka atau dibuka kembali dan kini menampung lebih dari 20.000 orang, menurut UN OCHA.
"PBB menegaskan kembali seruan untuk perlindungan warga sipil serta akses kemanusiaan yang aman, berkelanjutan, dan tanpa hambatan, terutama bagi masyarakat yang semakin terisolasi akibat konflik yang terus berlangsung," kata badan tersebut.