Jakarta (ANTARA) - Perpustakaan Nasional (Perpusnas) mengajukan dua naskah kuno Nusantara sebagai nominasi UNESCO Memory of the World Committee for Asia and the Pacific (MoWCAP) 2026.
Kedua naskah itu yakni Bo’ Sangaji Kai: Catatan Kerajaan Bima, Saksi Erupsi Tambora 1815 dan Kidung Bhuwana Wināśa yang dipresentasikan dalam Pertemuan Umum Ke-11 MoWCAP dan diselenggarakan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) di Jakarta pada Rabu.
Ketua Yayasan Museum Kebudayaan Samparaja Bima Dewi Ratna Muchlisa Mandyara menjelaskan bahwa Bo’ Sangaji Kai merupakan catatan sejarah dan kebudayaan Kerajaan Bima sejak abad ke-17 hingga abad ke-19.
Naskah tersebut tidak hanya merekam perjalanan kerajaan, tetapi juga peristiwa erupsi Gunung Tambora pada 1815, kehidupan sosial masyarakat Bima, hubungan antarkerajaan, hingga tradisi Hanta Ua Pua.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara Perpusnas Aditia Gunawan menjelaskan, Kidung Bhuwana Wināśa merupakan puisi tradisional Bali yang merekam diplomasi, konflik, dan perlawanan masyarakat Bali serta Lombok terhadap kolonial Belanda.
Ditulis Ida Pedanda Ngurah pada 1918, naskah tersebut terdiri atas 55 lempir daun lontar dengan 383 bait dalam empat pupuh. Isinya antara lain merekam keterlibatan perempuan Bali dalam peristiwa Puputan Badung pada 1906 dan Puputan Klungkung pada 1908.
Pengajuan kedua naskah tersebut dilakukan melalui kolaborasi Perpusnas dengan sejumlah lembaga kebudayaan dan pemerintah daerah, termasuk Yayasan Museum Samparaja Bima dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Melalui nominasi tersebut, Perpusnas berharap warisan dokumenter Nusantara semakin dikenal dan memperoleh pengakuan sebagai bagian dari ingatan kolektif kawasan Asia Pasifik.