Sabang, CNBC Indonesia - Kepala Ekonom PT Bank Danamon Tbk. Irman Faiz menilai kenaikan premi risiko gagal bayar (credit default swap/CDS) Indonesia dipengaruhi lebih dari satu faktor, dengan geopolitik sebagai penyebab terbesar. Ia mengingatkan pemerintah agar tetap disiplin mengelola utang dan menjaga defisit anggaran agar biaya pinjaman bisa turun.
Hal itu disampaikan Irman dalam sesi tanya jawab, Media Briefing Bank Indonesia (BI), Jumat (6/11/2026), saat ditanya soal dampak bunga utang dan CDS yang kian tinggi terhadap pandangan investor terhadap Indonesia.
Menurut Irman, ketidakpastian terkait penilaian Morgan Stanley Capital International (MSCI) memang ikut mendorong CDS, tetapi bukan satu-satunya penyebab.
"CDS yang semakin tinggi ini ada beberapa faktor, salah satunya yang paling besar adalah geopolitik," ujarnya.
Ia menyebut jika ketidakpastian MSCI bertahan hingga awal 2027, sementara geopolitik membaik, premi risiko secara keseluruhan bisa turun. "Kalau MSCI itu faktor yang meningkat, memang ini mendorong CDS, tapi ada faktor lain yang juga menjadi dasar CDS tersebut, yaitu geopolitik," katanya.
Meski melihat peluang CDS dan yield turun, Irman menekankan pemerintah tidak boleh lengah. Menurutnya, perilaku hati-hati dalam pengelolaan utang harus diterapkan sekarang.
"Yang jelas, prudent behavior dalam manajemen utang itu sudah harus diterapkan. Makanya kita harus tetap menjaga komitmen fiskal defisit di 3% maksimal," tegasnya.
Tujuannya, kata Irman, agar lembaga pemeringkat tidak terus menyoroti risiko Indonesia. Ia menyinggung S&P yang disebutnya mempersoalkan beban bunga terhadap penerimaan negara yang sudah di atas 15%. Bila dalam dua tahun rasio itu tidak turun di bawah 15%, menurutnya ada potensi downgrade.
"Penting bagi kita untuk menjaga borrowing cost-nya bisa turun secara perlahan, salah satunya dengan menjaga defisit fiskal di 3%," ujarnya.
Di sisi pasar obligasi, Irman memperkirakan yield SBN bisa turun ke 7,2% tahun depan jika yield obligasi AS turun ke 4,2%. Selisih imbal hasil sebesar 240-270 basis poin, menurutnya, perlu dijaga agar pasar obligasi domestik tetap menarik bagi investor asing.
Ia menjelaskan Indonesia membutuhkan arus dolar untuk membiayai impor di tengah defisit transaksi berjalan, dan pasar saham tidak bisa diandalkan setelah isu MSCI. "Kalau kita butuhkan dolar, equity kita enggak bisa diharapkan. Yang kita harapkan adalah bond market," kata Irman.
[Gambas:Video CNBC]