Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Garuda kembali bergerak di zona hijau pada pembukaan perdagangan Kamis (5/11/2026), setelah sehari sebelumnya ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Merujuk data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp18.120/US$, menguat 0,19% dibandingkan penutupan Rabu (4/11/2026) di posisi Rp18.155/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah 0,27% ke posisi 101,296.
Dari eksternal, pasar mencermati perkembangan politik AS setelah Partai Demokrat berhasil merebut kendali DPR dan Senat dalam pemilu paruh waktu (midterm elections).
Kemenangan tersebut berpotensi membatasi ruang gerak Presiden Donald Trump, termasuk dalam kebijakan terkait perang AS-Israel melawan Iran. Pasar menilai perubahan peta politik ini dapat meningkatkan tekanan terhadap Trump untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Harapan meredanya konflik turut menekan harga minyak dunia. Pada perdagangan Rabu (4/11/2026), minyak Brent anjlok 8,7% ke US$94,62 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) merosot 8,3% ke US$88,12 per barel. Keduanya mencatatkan penutupan terendah sejak 31 Agustus 2026.
Bagi Indonesia sebagai importir neto minyak, penurunan harga tersebut berpotensi mengurangi tekanan biaya impor energi, meski dampaknya terhadap rupiah juga bergantung pada pergerakan dolar AS dan arus modal asing.
Sementara dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2026 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini, Kamis (5/11/2026), pukul 11.00 WIB.
Berdasarkan konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dari 15 lembaga dan institusi, ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 5,20% secara tahunan (year-on-year/YoY) dan 1,33% secara kuartalan (quarter-to-quarter/QtQ).
Jika sesuai perkiraan, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat selama dua kuartal berturut-turut, dari 5,61% pada kuartal I menjadi 5,29% pada kuartal II, kemudian 5,20% pada kuartal III-2026.
Meski melambat, pertumbuhan tersebut masih lebih tinggi dibandingkan kuartal III-2025 yang tercatat sebesar 5,04% YoY.
Realisasi pertumbuhan ekonomi yang melampaui ekspektasi berpotensi menjadi sentimen positif bagi rupiah. Sebaliknya, pertumbuhan di bawah perkiraan dapat menambah kekhawatiran pasar terhadap prospek ekonomi domestik.
[Gambas:Video CNBC]