Liputan6.com, Jakarta - terhadap Amerika Serikat (AS) diproyeksikan menguat pada perdagangan Rabu (4/11/2026). Pergerakan mata uang Garuda berpotensi mendapat dukungan dari penurunan harga minyak mentah dunia serta pelemahan indeks .
Analis Doo Financial, Lukman Leong, mengatakan harga minyak mentah dunia mengalami penurunan seiring munculnya harapan tercapainya perdamaian di Timur Tengah. Selain itu, indeks dolar AS turut melemah akibat pelaku pasar mengantisipasi hasil pemilu paruh waktu di AS.
"Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS di tengah penurunan harga minyak mentah dunia oleh harapan damai di Timur Tengah, dan penurunan pada indeks dolar AS oleh antisipasi hasil pemilu paruh waktu di AS," ujar Lukman dikutip dari keterangannya, Rabu (4/11/2026).
Ia menambahkan, indeks dolar AS (US Dollar Index/DXY) dan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury yield) terpantau mengalami penurunan cukup besar pada pagi ini. Kondisi tersebut berpotensi memberikan ruang bagi rupiah untuk bergerak di zona hijau.
Meski demikian, penguatan rupiah diperkirakan tidak akan berlangsung signifikan. Pasalnya, sentimen di pasar saham domestik yang masih lemah berpotensi membatasi pergerakan rupiah.
"Namun penguatan diperkirakan terbatas di tengah sentimen yang masih lemah di pasar ekuitas domestik. DXY dan UST yield terpantau turun cukup besar pagi ini," ujarnya.
Tekanan Arus Modal Asing
Selain itu, arus modal asing di pasar keuangan Indonesia masih menghadapi tekanan akibat persoalan domestik terkait status pasar. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor penahan yang perlu dicermati investor.
Sentimen eksternal yang cenderung mendukung rupiah pun masih perlu diimbangi dengan perkembangan kondisi pasar keuangan dalam negeri. Dengan demikian, arah pergerakan rupiah akan sangat dipengaruhi oleh kombinasi dinamika global dan domestik.
Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak dalam rentang 18.050 per dolar AS hingga 18.200 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Rentang tersebut mencerminkan peluang penguatan rupiah di tengah pelemahan dolar AS, meskipun tekanan dari pasar keuangan domestik masih membayangi.