JAKARTA -- Keinginan untuk memberikan kehidupan yang layak dan sejahtera bagi keluarga adalah naluri alamiah setiap manusia. Namun, apa yang terjadi ketika desakan ekonomi yang mencekik justru mendorong seseorang mengambil jalan pintas berisiko tinggi?
Dilema moral dan tragedi kemanusiaan inilah yang diangkat secara tajam dalam film horor terbaru produksi Starvision bertajuk Dewi Siluman Ular. Garapan sutradara Azhar Kinoi Lubis ini tidak sekadar menjual kejutan horor biasa, melainkan mengangkat cermin realitas sosial tentang bahaya pesugihan yang dikemas dalam kisah nyata seorang kepala keluarga bernama Dedi.
Dedi berada dalam kondisi ekonomi yang sangat terdesak. Ia terlilit utang di mana-mana, usianya dan usahanya tidak berjalan baik, sementara kebutuhan rumah tangga terus membengkak.
Puncaknya, keterbatasan biaya bahkan membuat proses persalinan istrinya harus tertunda. Dalam situasi gencar yang menghimpit, Dedi mengambil keputusan impulsif dengan menempuh jalan pesugihan demi mengubah nasib secara instan. Lewat pernikahan mistis antara manusia dan jin, ia menyunting Dewi, sosok siluman ular yang diperankan oleh Anya Geraldine. Kekayaan berlimpah memang berhasil diraihnya, tetapi harga yang harus dibayar jauh lebih mahal dari bayangan semula.
Produser Chand Parwez Servia mengatakan latar belakang cerita ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, terutama mengenai beratnya perjuangan memenuhi kebutuhan di tengah himpitan ekonomi. Menurutnya, godaan mencari kekayaan instan seperti pesugihan sejatinya memiliki pola yang miris dan sangat mirip dengan fenomena sosial masa kini.
"Karena kita tahu tawaran pesugihan itu seperti pinjol di luar sana, banyak sekali. Kita sudah tahu karakter pinjol, edukasi pesugihan lebih gawat daripada pinjol," ujar Chand dalam konferensi pers film Dewi Siluman Ular di XXI Epicentrum, Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Chand membagikan pesan paling mendalam yang ditinggalkan oleh sosok asli Dedi sebelum mengembuskan napas terakhirnya. Sebuah penyesalan berharga yang menjadi inti dari pelajaran film ini. "Lebih baik dapat uang Rp10 ribu dari jerih payah sendiri daripada dapat Rp1 juta dari pesugihan tapi tertekan," kata Chand mengenang pesan almarhum Dedi sembari mendoakan agar almarhum mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.
Penulis skenario Ayu Anggraini Putri menilai keputusasaan Dedi adalah potret nyata banyak orang yang sedang berjuang bertahan hidup. Namun, ia mengingatkan pentingnya menjaga akal sehat meski berada di titik terendah. "Semoga yang nonton ini jadi refleksi untuk tetap berpikir rasional di setiap keputusan, di setiap situasi mendesak apa pun. Semoga keputusan-keputusan yang kita ambil tetap rasional, kita bisa menentukan mana benar dan salah," ujar Ayu.