Nasional

Sudinkes catat 1.852 kasus DBD di Jakarta Barat hingga Oktober 2026

Sudinkes catat 1.852 kasus DBD di Jakarta Barat hingga Oktober 2026

Jakarta (ANTARA) - Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) Jakarta Barat mencatat sebanyak 1.852 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) terjadi di wilayah Jakarta Barat selama periode Januari hingga 29 Oktober 2026.

Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat, Sahruna, menyampaikan angka tersebut merupakan akumulasi kasus yang terdata hingga akhir Oktober.

“Jumlah kasus DBD tahun 2026 berdasarkan data per 29 Oktober di Jakarta Barat adalah 1.852 kasus,” ujar Sahruna saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.

Jumlah kasus pada periode yang sama tahun ini menunjukkan tren penurunan jika dibandingkan dengan tahun lalu.

Pada 2025, Jakarta Barat mencatatkan angka DBD tertinggi di DKI Jakarta, yakni mencapai 2.548 kasus hingga pertengahan Oktober.

Tahun lalu tercatat puncak kasus DBD tertinggi di Jakarta Barat terjadi pada Mei dengan angka mencapai 362 kasus.

Guna menekan angka penularan lebih lanjut di tahun ini, Sahruna mengimbau seluruh lapisan masyarakat serta pemangku kepentingan untuk terus menggencarkan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di lingkungan masing-masing.

Ia mengatakan, keberhasilan pengendalian DBD tidak hanya bertumpu pada langkah pemerintah, melainkan membutuhkan partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan serta membasmi tempat berkembang biaknya nyamuk aedes aegypti.

"Deteksi dini keberadaan jentik nyamuk menjadi kunci utama dalam memutus rantai penularan penyakit tersebut. Dalam pelaksanaannya, kami mengutamakan peran serta aktif masyarakat secara mandiri sebagai Jumantik (Juru Pemantau Jentik) di rumah masing-masing," kata Sahruna.

Ia menuturkan, seluruh puskesmas di wilayah Jakarta Barat terus memantau angka insiden dan kecepatan penularan secara berkala.

Petugas kesehatan di lapangan juga bergerak cepat melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) pada setiap kasus yang ditemukan, sembari memperkuat Gerakan PSN 3M Plus.

"Puskesmas gencar melakukan pemantauan vektor atau jentik DBD di lingkungan permukiman yang dibarengi dengan peningkatan promosi kesehatan tentang bahaya DBD secara luas," kata Sahruna.