Ekonomi

Trenggono Bangun Tambak Udang Raksasa di NTT, Begini Progresnya

Trenggono Bangun Tambak Udang Raksasa di NTT, Begini Progresnya

Jakarta, CNBC Indonesia - Pembangunan kawasan tambak udang terintegrasi berskala raksasa di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus berproses. Hingga awal November 2026, progres pembangunan proyek tersebut telah mencapai hampir 20% dan ditargetkan meningkat menjadi 50% pada Desember 2026.

Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) TB Haeru Rahayu mengatakan, target 50% tersebut dihitung berdasarkan material yang sudah berada di lokasi proyek atau Material On Site (MOS).

"Mungkin sekarang hampir 20% ya dari target. Kita ada target 50% selesai itu di Desember ini. Iya, karena dengan MOS ya, MOS itu istilahnya Material On Site. Itu 50%," kata Haeru kepada CNBC Indonesia, Minggu (8/11/2026).

Haeru menjelaskan, pembangunan kawasan tambak udang tersebut dilakukan secara bersamaan di seluruh bagian proyek. Artinya, pengerjaan tidak dilakukan dengan menyelesaikan satu klaster terlebih dahulu sebelum beralih ke klaster lainnya.

Kawasan tambak udang Waingapu sendiri dirancang terdiri dari 12 klaster. Seluruh klaster tersebut dibangun sebagai satu kesatuan, sehingga progres pengerjaan dihitung dari berbagai komponen infrastruktur yang dikerjakan secara paralel.

Konferensi pers update pembangunan kawasan tambak Waingapu, NTT, Rabu (1/4/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)Konferensi pers update pembangunan kawasan tambak Waingapu, NTT, Rabu (1/4/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata) Foto: Konferensi pers update pembangunan kawasan tambak Waingapu, NTT, Rabu (1/4/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)

"Kita sekaligus membangunnya, jadi progres keseluruhan. Ibarat bangunan, nggak satu dulu jadi gitu, jadi kita ada yang di intake, ada yang di ini, semua gitu dihitungnya secara keseluruhan," jelasnya.

Menurut Haeru, percepatan pembangunan proyek tersebut juga mengikuti arahan Presiden Prabowo Subianto kepada Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono. Pemerintah ingin memangkas waktu pembangunan dari rencana awal tiga tahun menjadi dua tahun.

"Kalau sebenarnya, kontraknya itu 3 tahun, tapi Pak Presiden minta kepada Pak Menteri (Trenggono) percepatan menjadi 2 tahun. Kalau begitu, maka akhir 2027 konstruksi harus sudah selesai semua. Berarti awal 2028 itu sudah mulai operasional," ucap dia.

Sebagai informasi, proyek tambak udang terintegrasi atau Integrated Shrimp Farming (ISF) Waingapu dibangun di atas lahan sekitar 2.150 hektare. Kawasan ini berlokasi di Desa Palakahembi dan Kelurahan Watumbaka, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur.

Kawasan tersebut dirancang memiliki 12 klaster yang mencakup 1.536 kolam budidaya, 192 kolam tandon, serta 48 instalasi pengolahan air limbah (IPAL) klaster. Selain itu, proyek ini dilengkapi infrastruktur pengambilan air laut (intake), area karantina, jalan produksi, hingga fasilitas pengolahan hasil perikanan.

Dari sisi pembiayaan, proyek raksasa tersebut membutuhkan investasi sekitar Rp7,2 triliun melalui skema Kredit Swasta Asing (KSA). Pendanaan ini digunakan untuk mendukung pembangunan kawasan tambak udang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Haeru mengatakan, skala kawasan tambak udang Waingapu sekitar 20 kali lebih besar dibandingkan proyek tambak udang di Kebumen, Jawa Tengah. Perbedaannya, Waingapu dirancang memiliki rantai produksi yang terintegrasi, mulai dari pembenihan hingga pengolahan hasil panen.

"Ini kurang lebih 20 kalinya Kebumen. Jadi semua sudah terintegrasi. Hulunya ada. Hulu itu kayak menetaskan, hatchery. Hilirnya ada, kayak processing-nya, cold storage dan sebagainya. Jadi semua sudah terintegrasi," ungkap Haeru.

Saat beroperasi penuh, kawasan tambak udang Waingapu ditargetkan mampu menghasilkan sekitar 52.800 ton udang per tahun. Produksi tersebut diproyeksikan berasal dari 2 hingga 2,5 siklus budidaya dalam setahun.

Haeru menjelaskan, satu siklus budidaya udang membutuhkan waktu sekitar empat bulan sejak penebaran benih hingga panen. Dengan target operasional dimulai pada awal 2028, panen perdana secara teori dapat berlangsung sekitar pertengahan tahun yang sama.

"4 bulan," kata Haeru saat ditanya mengenai waktu yang dibutuhkan sejak penebaran benih hingga panen.

(wur)[Gambas:Video CNBC]