Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Universitas Brawijaya (UB) menambah sebanyak lima guru besar dari empat fakultas berbeda yang akan dikukuhkan senat akademik kampus tersebut, pada Minggu (8/11).
Kelima guru besar tersebut adalah Prof Nur Chanifah dan Prof Aan Eko dari Fakultas Hukum, Prof Abdul Ghofar dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Prof Mohammad Iqbal dari Fakultas Ilmu Administrasi, serta Prof Ali Mashuri dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Prof Nur Chanifa dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Gedung Samantha Krida, Universitas Brawijaya di Kota Malang, Jawa Timur, Jumat mengatakan, mengenalkan model literasi hybrid sebagai kerangka inovatif sebagai jembatan antara keilmuan Islam klasik atau turath, pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), dan keterampilan berpikir mahasiswa.
"AI bukan sebagai pengganti proses berpikiran dan otoritas keilmuan tetapi menjadi instrumen pendukung pembelajaran yang tetap dikendalikan oleh ketepatan metodologi, integritas akademik, dan mempertimbangkan kemaslahatan," kata Nur Chalifah.
Diharapkan model yang dikembangkan ini dapat menjadi kerangka pedagogis atau prinsip, konsep, dan pedoman terstruktur dalam berjalannya transformasi pendidikan hukum Islam di era AI yang mengintegrasikan literasi turath, AI dan literasi kritis.
Di tempat yang sama, Prof Ali Mashuri mengemukakan, telah merancang Arsitektur Nalar Damai Identifikasi Nasional (ANDAL) sebagai model psikososial untuk menjelaskan tentang rasa memiliki dan mencintai Indonesia.
"Jadi sebagai pondasi pemahaman mengenai ciri dan simbol identitas suatu bangsa, misalnya Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan Bahasa Indonesia," ucapnya.
Menyangkut pengembangan ANDAL, ia menyebut membutuhkan sejumlah langkah strategis, seperti pengujian model integratif higher-order nested identity, dual identification, dan constructive patriotism dengan mempertimbangkan kemajemukan identitas nasional, agama, etnis, serta budaya lokal.
Sedangkan, Prof Mohammad Iqbal mengenalkan konsep AISA atau Adaptability, Innovation Orientation, Support, dan Autonomy untuk menguatkan organisasi serta ekosistem kewirausahaan.
"Saya berharap model AISA membantu organisasi menumbuhkan anggota yang berinisiatif demi kepentingan bersama," kata dia.
Kemudian Prof Abdul Ghofar mengenalkan model Contextual-Adaptive Good Governance (CA-GOV) sebagai sistem pendekatan baru di dalam tata kelola perusahaan untuk mengatasi keterbatasan tata kelola konvensional yang selama ini berorientasi pada struktur formal dan kepatuhan.
Lalu, Prof Aan Eko menggagas konsep Legislasi dan Tata Kelola Regulasi Berkelanjutan (LEGIS) yang mengintegrasikan mulai tahap pra-pembentukan, pembentukan, dan pascapembentukan sebagai satu sistem umpan balik berkelanjutan berbasis bukti empiris, analisa dampak, dan partisipasi masyarakat.