JAKARTA — Lagu “Cinta Sudah Lewat” ciptaan Yovie Widianto yang pertama kali dipopulerkan oleh grup musik Kahitna pada 2003, kini hadir kembali dalam balutan warna yang segar. Adalah Wijaya80, grup musik yang dikenal dengan eksplorasi musik berjiwa era 80-an, yang secara apik membawakan ulang salah satu hit ikonik di Indonesia ini.
Perjalanan aransemen baru ini bukanlah hal yang instan. Semua bermula dari penampilan memukau Wijaya80 di panggung konser “Miliaran Cinta” pada 2025.
Kehadiran mereka membawakan lagu tersebut di atas panggung rupanya langsung memantik gelombang reaksi positif dari publik di jagat media sosial, khususnya TikTok dan Instagram. Respons hangat dari para penikmat musik inilah yang kemudian membuka pintu kolaborasi langsung dengan sang pencipta lagu, Yovie Widianto.
Meracik ulang sebuah lagu yang sudah terpatri kuat di ingatan jutaan pendengar tentu bukan urusan sepele. Sebagai produser, Erikson menyadari betul besarnya tantangan untuk menghadirkan aransemen baru tanpa merusak identitas emosional lagu aslinya.
Menyatukan karakter khas Wijaya80 dengan nyawa asli “Cinta Sudah Lewat” membutuhkan keberanian serta keyakinan artistik yang matang. “Sempat meragukan diri sendiri, apakah ketika diaransemen ulang lagunya akan berubah. Tapi kita harus percaya sama diri sendiri dan gaya musik kita. Mas Yovie juga mempercayakan lagu ini untuk kita bawakan, dan untungnya beliau suka,” ujar Erikson dalam keterangan tertulis yang diterima Republika pada Ahad (8/11/2026).
Dalam proses penggarapannya, Wijaya80 secara cermat mempertahankan nuansa piano retro yang menjadi ciri khas dan pemanggil nostalgia dari versi tahun 2003, lalu mengawinkannya secara halus dengan elemen suara serta pendekatan produksi yang jauh lebih modern. Bagi para personel Wijaya80, melodi dan lirik yang tertuang dalam karya Yovie Widianto memiliki magis tersendiri.
Hezky merasa kekuatan utama lagu ini terletak pada kesederhanaan bait liriknya yang justru mampu menusuk relung emosi paling dalam. Keindahan lirik yang terkonsep sederhana namun begitu magis menjadi titik fokus yang sangat dijaga oleh Hezky dan rekan-rekannya selama proses aransemen.
“Bagian ‘Tanpamu cinta tak berarti, cinta sudah lewat’ itu gila sih menurut gue. Kita mungkin bisa menulis kalimat itu sebagai kalimat biasa, tapi untuk membuatnya menjadi sebuah lagu, dibutuhkan kedalaman hati,” kata Hezky penuh kekaguman.