Artinya kebijakan yang sudah dijalankan selama ini telah menghasilkan performa operasional produksi yang bagus dari sisi teknis
Jakarta (ANTARA) - Asosiasi Gula Indonesia (AGI) memproyeksikan produksi gula nasional 2026 mencapai sedikitnya 2,8 juta ton, menjadi capaian tertinggi dalam sekitar satu dekade didorong peningkatan rendemen, perluasan areal tebu, dan perbaikan produktivitas.
"Hingga menjelang akhir musim giling, produksi gula berbasis tebu diperkirakan mencapai sedikitnya 2,8 juta ton, menjadi salah satu capaian terbaik dalam kurun waktu sekitar satu dekade terakhir," kata Sekretaris Jenderal AGI Dwi Purnomo dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Ia mengatakan kinerja produksi gula nasional tahun ini menunjukkan hasil yang positif. Meski proses giling di sejumlah pabrik gula masih berlangsung, produksi nasional telah mencapai kisaran 2,6-2,7 juta ton dan diperkirakan menembus 2,8 juta ton setelah seluruh pabrik menyelesaikan musim giling.
"Menurut saya cukup baik. Artinya kebijakan yang sudah dijalankan selama ini telah menghasilkan performa operasional produksi yang bagus dari sisi teknis," ujar Dwi.
Karena itu, Asosiasi Gula Indonesia mengapresiasi kebijakan Kementerian Pertanian (Kementan) yang dinilai berhasil mendorong peningkatan produksi gula nasional pada musim giling 2026.
Menurutnya, peningkatan produksi tidak lepas dari sejumlah faktor pendukung, termasuk kebijakan pemerintah yang mendorong program bongkar ratun serta peningkatan luas areal tebu. Kondisi cuaca akibat El Nino juga memberikan dampak positif terhadap peningkatan rendemen atau kandungan gula dalam tanaman tebu.
"Tahun ini rendemennya bagus. Salah satunya karena faktor El Nino yang membuat iklim lebih kering sehingga kandungan gula dalam tanaman meningkat," ucapnya.
Meski begitu, dia mengakui ada penurunan bobot tebu akibat cuaca kering, tetapi secara keseluruhan produksi nasional tetap meningkat karena luas areal juga bertambah.
Dari sisi industri, AGI menilai kondisi tahun ini cukup kondusif. Selain produksi meningkat, harga gula dan harga tetes tebu juga berada pada level yang menguntungkan petani maupun pabrik gula.
Harga lelang gula saat ini bahkan telah berada di atas Rp17.000 per kilogram, jauh di atas harga acuan pembelian gula di tingkat produsen sebesar Rp14.500 per kilogram.
Kondisi tersebut, menurut Dwi, memberikan sinyal positif bagi keberlanjutan industri gula nasional. Peningkatan pendapatan petani dan pabrik gula diharapkan dapat mendorong perluasan areal tanam tebu pada musim berikutnya.
"Dengan harga gula yang baik, harga tetes yang baik, dan produksi nasional yang meningkat, harapannya pendapatan petani tebu maupun pabrik gula juga meningkat. Tahun depan mestinya akan lebih banyak petani yang menanam tebu dan luas arealnya bertambah," katanya.
AGI juga menilai konsistensi pemerintah dalam menjalankan program bongkar ratun menjadi salah satu faktor penting yang mendukung peningkatan produktivitas. Kebijakan tersebut dinilai perlu terus dilanjutkan untuk memperkuat fondasi pencapaian target swasembada gula nasional.
Meski demikian, Dwi mengingatkan tantangan industri gula ke depan masih cukup besar. Selain mengejar target swasembada gula konsumsi, pemerintah juga tengah mendorong pencapaian swasembada gula industri serta pengembangan program bioetanol melalui implementasi mandatory blending dari etanol E5 menuju E20.
"Tantangannya cukup berat, tetapi mudah-mudahan dengan kerja sama semua pihak target-target tersebut bisa dicapai," ujarnya.
Terkait kebijakan pemerintah ke depan, AGI berharap pemerintah tetap menjaga iklim usaha yang kondusif bagi petani dan industri gula nasional.
Menurut Dwi, kebijakan yang berpotensi menekan pendapatan petani maupun industri sebaiknya dihindari, sementara kebijakan yang mendukung stabilitas harga gula dan produk turunan tebu perlu dipertahankan.
Ia menilai capaian produksi tahun ini menjadi bukti bahwa kebijakan yang mendukung sektor pergulaan domestik mampu menghasilkan kinerja positif.
Karena itu, AGI berharap keberpihakan terhadap petani tebu dan industri gula nasional tetap dijaga agar momentum peningkatan produksi dapat berlanjut pada tahun-tahun mendatang.
"Yang penting jangan ada kebijakan yang menimbulkan kejutan dan mengganggu stabilitas industri. Kondisi yang kondusif seperti sekarang perlu dipertahankan agar petani dan industri memiliki kepastian untuk terus meningkatkan produksi," kata Dwi.