Politik

Dirut Bulog: Penyerapan gabah petani tembus 4,4 juta ton setara beras

Dirut Bulog: Penyerapan gabah petani tembus 4,4 juta ton setara beras

Jakarta (ANTARA) - Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyatakan penyerapan gabah petani telah menembus 4,4 juta ton setara beras sebagai langkah memperkuat cadangan pangan menghadapi dinamika global.

"Serapan kami saat ini sudah lebih dari 4,4 juta ton setara beras. Serapan itu tertinggi selama Indonesia merdeka, belum pernah sampai angka 4,4 juta ton," kata Rizal ditemui usai mengikuti rapat kerja dengan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman di Jakarta, Minggu.

Bulog, lanjutnya, sejak awal tahun mengarahkan percepatan penyerapan hasil panen petani setelah muncul proyeksi ancaman kekeringan ekstrem akibat fenomena El Nino yang berpotensi mempengaruhi produksi pangan nasional.

Strategi tersebut dilakukan agar pemerintah memiliki cadangan beras yang memadai untuk mengantisipasi kemungkinan penurunan produksi akibat cuaca ekstrem maupun gangguan pasokan pangan dunia.

"Dulu kami pernah menyampaikan, bahwa dengan adanya informasi pada awal-awal tahun mau ada El Nino. Makanya, Direktur Pengadaan kami, kami perintahkan untuk menyerap beras atau menyerap hasil gabah dari panen petani semaksimal mungkin pada awal tahun," ujarnya.

Menurut Rizal, realisasi penyerapan tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia dan mencerminkan komitmen pemerintah menjaga hasil panen petani tetap terserap optimal sesuai dengan harga pembelian pemerintah (HPP) Rp6.500 per kilogram.

Cadangan hasil penyerapan itu dipersiapkan sebagai langkah antisipasi menghadapi berbagai ketidakpastian, termasuk dampak El Nino dan perkembangan situasi geopolitik yang mempengaruhi perdagangan pangan global.

Memasuki November, lanjut Rizal, kemampuan penyerapan harian memang menurun dibandingkan masa panen raya karena produksi gabah petani ikut berkurang seiring perubahan musim dan kondisi iklim.

Meski demikian, Bulog memastikan penyerapan hasil panen petani tetap berlangsung setiap hari agar gabah yang tersedia di lapangan tetap memperoleh kepastian pasar.

"Sekarang pada bulan November sekira 4.000 ton per hari setara beras, kalau gabahnya 8.000 ton. Yang biasanya kami pada awal tahun bisa 20 ribu ton, bahkan bisa sampai 60 ribu ton setara beras per harinya," jelasnya.

Rizal menegaskan kegiatan penyerapan tidak berhenti meskipun target awal telah tercapai sebanyak 4 juta ton setara beras, karena pemerintah tetap mengutamakan perlindungan terhadap petani dan stabilitas pasokan beras.

Bulog akan melanjutkan penyerapan hingga akhir tahun sesuai arahan pemerintah, kemudian meneruskannya pada awal tahun berikutnya tanpa menghentikan aktivitas pembelian gabah petani.

Menurut Rizal, kesinambungan penyerapan menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan petani sebagai produsen dan kebutuhan masyarakat sebagai konsumen.

Selain menyerap gabah, Bulog terus memperkuat pengelolaan cadangan beras pemerintah agar siap digunakan ketika diperlukan untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan nasional.

Hingga 8 November 2026, stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog telah mencapai sekitar 4,5 juta ton sebagai hasil penguatan penyerapan sepanjang tahun berjalan.

Rizal optimistis kesinambungan penyerapan gabah petani dan penguatan cadangan beras pemerintah akan memperkokoh ketahanan pangan nasional menghadapi tantangan iklim serta dinamika ekonomi dan geopolitik global.

"Sesuai perintah Bapak Presiden (Prabowo Subianto) dan Pak Menko (Menko Pangan Zulkifli Hasan), Pak Mentan (Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman), walaupun target empat juta ton sudah terpenuhi, Bulog diperintahkan untuk tetap menyerap hasil gabah petani sampai Desember," kata Rizal.

"Nanti di Januari lanjut lagi, non-stop pokoknya. Tiada hari tanpa penyerapan," ujar Rizal.