Politik

Hasto ziarah ke makam Bung Karno teguhkan semangat Hari Pahlawan

Hasto ziarah ke makam Bung Karno teguhkan semangat Hari Pahlawan
Kami secara khusus berziarah ke makam Bung Karno, proklamator dan bapak bangsa Indonesia. Ini sekaligus dalam rangka peringatan Hari Pahlawan untuk menggelorakan kembali cita-cita besar pendirian Republik Indonesia

Jakarta (ANTARA) - Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto berziarah ke makam Presiden pertama RI Soekarno di Blitar, Jawa Timur, Sabtu, untuk menyambut peringatan Hari Pahlawan.

"Kami secara khusus berziarah ke makam Bung Karno, proklamator dan bapak bangsa Indonesia. Ini sekaligus dalam rangka peringatan Hari Pahlawan untuk menggelorakan kembali cita-cita besar pendirian Republik Indonesia," kata Hasto kepada wartawan di Blitar, Sabtu.

Ia mengatakan Indonesia merdeka melalui perjuangan dan pengorbanan besar para pahlawan sehingga cita-cita kemerdekaan tidak boleh disia-siakan.

Menurut dia, pengorbanan tersebut harus diwujudkan melalui tata kelola pemerintahan yang berpihak kepada rakyat serta kebijakan yang mengarah pada pencapaian cita-cita proklamasi.

"Kami mengambil semangat dari itu, bahwa Indonesia merdeka karena pengorbanan begitu banyak pahlawan bangsa. Pengorbanan ini tidak boleh disia-siakan dan harus dijabarkan dalam suatu tata pemerintahan negara, di mana seluruh kebijakan yang diambil harus diupayakan untuk mewujudkan seluruh cita-cita proklamasi," tuturnya.

Dalam ziarah tersebut, Hasto didampingi Anggota DPR RI Kanang Budi Sulistiyo, Anggota DPRD Kabupaten Blitar Sugeng Praptono, serta Ketua Soekarno Run Blitar Rera.

Setibanya di kompleks makam Bung Karno, Hasto bersama rombongan berdoa dengan dipimpin juru kunci makam, Mat. Setelah itu, mereka menaburkan bunga di pusara Bung Karno.

Hasto juga berziarah dan berdoa di makam kedua orang tua Bung Karno, yakni Ida Ayu Nyoman Rai dan Raden Soekeni Sosrodihardjo.

Sebelum meninggalkan makam, Hasto secara khusus kembali ke tempat peristirahatan terakhir Bung Karno. Ia berdoa kembali dengan khusyuk. Selama kurang lebih satu menit, Hasto memanjatkan doa di makam Bung Karno.

Sambil tertunduk, Hasto berdoa sambil meletakan kedua tangannya menyentuh makam. Aroma wangi melati dan sedap malam bercampur dengan heningnya suasana sore.

Sentuhan kedua tangan Hasto di atas nisan Bung Karno seolah menjadi ruang perenungan batin yang mendalam tentang arah perjalanan bangsa.

Usai berziarah, Hasto mengatakan dirinya turut memanjatkan doa agar Indonesia dijauhkan dari praktik kekuasaan yang menyimpang dari nilai-nilai moral, etika, dan kebenaran.

"Pada kesempatan ini, kami juga memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar Indonesia dapat dibebaskan dari berbagai anasir jahat yang mencoba menjauhkan bangsa dari cita-cita para pahlawan dengan ketamakan kekuasaan serta pengelolaan kekuasaan yang tidak lagi didasarkan pada nilai-nilai etika, moral, dan kebenaran," katanya.

Hasto juga mengingatkan para pejabat publik agar tidak menjadikan kekuasaan sebagai sarana memenuhi kepentingan pribadi maupun kelompok.

Menurut dia, kekuasaan seharusnya dimaknai sebagai bentuk pengabdian kepada rakyat yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

"Dalam menyambut Hari Pahlawan, kita diingatkan agar keteladanan dan pengorbanan para pahlawan benar-benar kita kobarkan. Seluruh pejabat negara harus mengambil inspirasi dari semangat pengorbanan tersebut sehingga kekuasaan digunakan untuk kepentingan rakyat, bukan kepentingan pribadi, kelompok, atau golongan," ujar Hasto.

Ia menambahkan keteladanan moral, kepatuhan terhadap hukum, dan keberanian memperjuangkan keadilan sosial harus menjadi pedoman bagi setiap pejabat negara dalam menjalankan amanah.

Hasto mengatakan prinsip tersebut juga menjadi arahan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri kepada seluruh kader partai untuk terus melakukan kritik dan evaluasi terhadap jalannya pemerintahan serta kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Keteladanan moral dan etika, menjunjung tinggi hukum, serta berjuang bagi keadilan dan kemakmuran rakyat seharusnya menjadi pegangan seluruh pejabat negara. Ibu Megawati Soekarnoputri juga selalu menginstruksikan kami untuk terus melakukan kritik dan otokritik agar PDI Perjuangan tetap berada pada jalur yang benar dalam mengawal kehidupan berbangsa dan bernegara," kata Hasto.