Jakarta (ANTARA) - Kejuaraan Jakarta Nasional Pencak Silat 2026 menjadi ajang pembinaan bagi para atlet muda untuk mengembangkan kemampuan sekaligus memperkuat pelestarian pencak silat sebagai olahraga dan warisan budaya Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Pembina Jakarta Nasional Pencak Silat 2026 Iskandar dalam pelaksanaan Jakarta Nasional Pencak Silat 2026 di GOR Ciracas, Jakarta Timur.
“Tradisinya tidak boleh kita tinggalkan. Pencak silat merupakan budaya asli Indonesia yang harus terus dikembangkan, baik di dalam negeri maupun didorong ke luar negeri, sehingga dapat menjadi karakter dan identitas pencak silat Indonesia di tingkat global,” kata Iskandar di GOR Ciracas, Jakarta Timur, Minggu.
Dia mengatakan penggabungan kategori olahraga dan tradisi bertujuan menghadirkan empat aspek utama pencak silat dalam satu kompetisi, yaitu aspek bela diri, olahraga, mental spiritual, dan seni budaya.
Menurut dia, pencak silat tidak hanya dikembangkan sebagai cabang olahraga prestasi, tetapi juga harus tetap mempertahankan nilai tradisi yang menjadi karakter dan identitas budaya Indonesia.
Iskandar berharap kejuaraan yang diikuti 15 provinsi itu dapat diselenggarakan secara konsisten setiap tahun serta menjadi bagian dari proses pembinaan atlet muda.
Para peserta juga diharapkan tidak berhenti pada pencapaian di tingkat kejuaraan tersebut, tetapi terus meningkatkan kemampuan untuk mengikuti kompetisi berjenjang yang diselenggarakan oleh induk organisasi pencak silat.
"Atlet yang berhasil meraih juara perlu terus meningkatkan dedikasi dan kualitas latihan agar dapat mencapai prestasi lebih tinggi, termasuk menjadi atlet daerah maupun nasional," ujar Iskandar.
Sementara itu, Sekretaris Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Provinsi DKI Jakarta Wahyu Supriyatna mengapresiasi penyelenggaraan Jakarta Nasional Pencak Silat 2026 yang mampu menarik sekitar 2.400 peserta.
Dia menilai kejuaraan tersebut merupakan salah satu ajang dengan jumlah peserta yang besar di antara kegiatan pencak silat yang direkomendasikan IPSI DKI Jakarta.
Dia menjelaskan IPSI DKI Jakarta turut melakukan pemantauan terhadap atlet-atlet yang memiliki potensi selama kejuaraan itu berlangsung. Pemantauan itu tidak hanya ditujukan kepada peserta yang berhasil meraih juara, tetapi juga pesilat yang dinilai memiliki bakat dan peluang untuk berkembang.
“Biasanya, ada atlet yang saat ini belum menjadi juara, tetapi memiliki potensi untuk berprestasi. Itu yang menjadi perhatian kami. Dari kegiatan-kegiatan kejuaraan seperti inilah, banyak atlet yang kemudian berkembang, hingga masuk ke pemusatan latihan daerah maupun tingkat nasional,” tutur Wahyu.
Dia menuturkan pencak silat dapat membuka peluang pengembangan bagi para atlet, termasuk melalui jalur prestasi pendidikan untuk melanjutkan ke jenjang SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Atlet yang berprestasi di tingkat nasional, di antaranya Pekan Olahraga Nasional (PON), juga berpeluang memperoleh apresiasi dan kesempatan pengembangan karier.
Di sisi lain, Ketua Panitia Jakarta Nasional Pencak Silat 2026 Anita menyebutkan kejuaraan itu merupakan kelanjutan dari kegiatan sebelumnya, yang bertujuan menyediakan ruang bagi para pencinta pencak silat untuk mengembangkan minat, bakat, dan kemampuan mereka.
Untuk menjaga transparansi pertandingan, penyelenggara menerapkan sistem penilaian digital sehingga peserta dapat melihat hasil penilaian secara langsung. Pertandingan dipimpin oleh wasit dan juri dari IPSI DKI Jakarta dengan memanfaatkan beberapa gelanggang.
Para peserta juga berkesempatan memperoleh sertifikat, medali, piala, serta uang pembinaan bagi para juara.
Salah satu pesilat muda yang berpartisipasi dalam ajang tersebut, yakni Muhammad Ikhwan Al Fatah (12), yang merupakan siswa MTs 22 dan berasal dari Perguruan Panca Sukma Sabandar 1971.
Fatah mengaku telah menekuni pencak silat sejak berusia sekitar enam tahun. Dalam ajang Jakarta Nasional Pencak Silat 2026, ia mengikuti jalur prestasi pada kategori tanding. Untuk mempersiapkan diri menghadapi pertandingan, ia rutin menjalani latihan setiap hari, menjaga pola makan, serta mengatur waktu istirahat agar kondisi fisiknya tetap prima.
“Saya latihan setiap hari, menjaga pola makan, tidur teratur, dan tidak begadang. Harapan saya, bisa menjadi juara satu di kejuaraan ini,” ucap Ikhwan.
Kegiatan yang berlangsung pada 6-8 November 2026 di GOR Ciracas, Jakarta Timur, itu diikuti sekitar 2.400 peserta dari 15 provinsi, yakni DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Papua, Banten, Sumatera Barat, Nusa Tenggara Timur, Jambi, Nusa Tenggara Barat, Bali, Lampung, Sumatera Selatan, dan Riau.
Kejuaraan tersebut melibatkan pelajar jenjang SD, SMP, SMA, dan sederajat. Kompetisi dibagi ke dalam sejumlah kategori, yakni jalur prestasi, pemasalan, dan tradisi, dengan cabang pertandingan meliputi seni tradisi, tanding, tunggal, ganda, dan regu.