Ekonomi

Kronologi Awal Rencana Impor KRL Bekas Jepang Sampai Akhirnya Batal

Kronologi Awal Rencana Impor KRL Bekas Jepang Sampai Akhirnya Batal

Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana impor Kereta Rel Listrik (KRL) bekas dari Jepang yang sempat diusulkan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI akhirnya batal. Setelah melalui proses pengusulan hingga evaluasi di Kementerian Perhubungan (Kemenhub), KAI memutuskan mengutamakan pengadaan KRL baru demi mendukung industri dalam negeri.

Wacana impor tersebut awalnya muncul di tengah meningkatnya jumlah penumpang Commuter Line Jabodetabek, sementara sebagian armada yang beroperasi sudah berusia tua. Namun, sebelum rencana impor mengemuka, KRL produksi dalam negeri juga sempat menjalani pemeriksaan menyeluruh.

KRL Produksi INKA Masuk Bengkel

Awal September 2026, KRL baru produksi PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA, EA-207 CLI-225 seri iE305, untuk sementara berhenti beroperasi. Sebanyak tujuh train set menjalani pemeriksaan menyeluruh atau general check up bersama KAI Commuter dan INKA, sejak 7 September hingga 30 September 2026.

VP Corporate Secretary KAI Commuter (KCI), Karina Amanda mengatakan pemeriksaan dilakukan untuk memastikan kondisi rangkaian KRL produksi INKA tersebut.

"Kami, KCI lagi bersama INKA sedang melakukan general check up untuk KRL seri iE305 yang diproduksi INKA, mulai tanggal 7 (September) kemarin," kata Karina kepada CNBC Indonesia, saat dikonfirmasi, Selasa (8/9/2026).

KRL CLI-225 merupakan salah satu armada baru yang dipesan KCI dari INKA dan diproduksi di Madiun, Jawa Timur. Dalam pembuatannya, INKA juga berkolaborasi dengan teknologi Jepang dari J-TREC serta menggandeng Toyo Denki untuk memasok sejumlah komponen utama.

TANJUNG PRIOK, JAKARTA, INDONESIA - 2015/05/05: Some officers assisted heavy equipment lowered railroad cars at the Port of Tanjung Priok. PT KAI Commuter Jabodetabek (KJC) bring 32 units of KRL purchased a used 205 series from Japan. The train is the first stage of the delivery program for the procurement of 176 units of KRL 2014. (Photo by Garry Andrew Lotulung/Pacific Press/LightRocket via Getty Images)TANJUNG PRIOK, JAKARTA, INDONESIA - 2015/05/05: Some officers assisted heavy equipment lowered railroad cars at the Port of Tanjung Priok. PT KAI Commuter Jabodetabek (KJC) bring 32 units of KRL purchased a used 205 series from Japan. The train is the first stage of the delivery program for the procurement of 176 units of KRL 2014. (Photo by Garry Andrew Lotulung/Pacific Press/LightRocket via Getty Images) Foto: LightRocket via Getty Images/Pacific Press

Penumpang Melonjak, KAI Usulkan Impor KRL Bekas

Di tengah kebutuhan armada yang terus meningkat, KAI mulai mengusulkan impor KRL bekas dari Jepang sebagai solusi sementara. Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengungkapkan, jumlah penumpang KRL pada semester I-2026 tumbuh 11,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut jauh melampaui proyeksi awal yang hanya berkisar 3%-4%.

"Ini terjadi anomali kalau kita bandingkan 2025 di 2026, itu 11,5%. Ini semester I di semester I, itu 11,5%. Yang tadinya rata-rata penumpang harian itu di bawah 1 juta, sekarang itu sudah 1,1 juta," ujar Bobby dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Rabu (23/9/2026).

Pada saat bersamaan, KAI mencatat sekitar 92 train set telah berusia 40 tahun dan harus dikonservasi secara bertahap. Kondisi tersebut diperkirakan semakin berat pada 2029, ketika sejumlah rangkaian memasuki usia 45 tahun dan menghadapi keterbatasan suku cadang serta penurunan kondisi material.

"Yang paling tinggi itu ada di 2029. Ketika trainset-trainset kita ini sudah berumur 45. Sudah berumur 45. 45 ini kita sudah tidak deal, satu sparepart-nya sudah tidak ada. Yang kedua, secara metal dia sudah mulai fatigue," katanya.

Karena itu, KAI menilai impor KRL bekas bisa menjadi solusi transisi, sembari menunggu kemampuan produksi industri dalam negeri meningkat. Pengadaan kereta bekas dinilai lebih cepat dibandingkan kereta baru dan rencananya akan digunakan selama sekitar 10 tahun.

"Kalau kita impor baru, nantinya produksi kereta dalam negeri akan terganggu. Kalau bekas ini hanya untuk transisi," ujar dia.

Proposal Masuk Kemenhub

Setelah wacana tersebut disampaikan, KAI kemudian mengajukan proposal impor KRL bekas kepada Kemenhub. Namun, pemerintah belum langsung memberikan persetujuan karena masih harus mengevaluasi spesifikasi teknis kereta yang akan didatangkan.

Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Allan Tandiono mengungkapkan, proposal dari KAI sudah diterima dan sedang dipelajari.

"Mereka (PT KAI) sudah menyampaikan proposalnya. Sedang kami pelajari ya, sedang kami evaluasi, terutama terkait spesifikasi teknisnya," ujar Allan kepada wartawan dalam diskusi Forwahub di Jakarta, Senin (26/10/2026).

Menurut Allan, evaluasi mencakup konfigurasi tempat duduk hingga keberadaan toilet di dalam rangkaian kereta asal Jepang. Hal tersebut perlu diperiksa untuk mengetahui kemungkinan penyesuaian desain agar kapasitas angkut penumpang bisa lebih optimal.

"Kita perlu tahu detail terkait kursi atau bangku, itu menghadap ke mana. Terus untuk kereta Jepang itu kan ada toiletnya ya. Nah apakah toiletnya akan dikeluarkan sehingga bisa mengangkut lebih banyak penumpang. Detail finalnya seperti apa, kami masih menunggu dari PT KAI," jelasnya.

Dengan demikian, keputusan impor belum bisa dipastikan selama spesifikasi teknis final dari KAI belum diterima dan dievaluasi.

"Kan perlu evaluasi spesifikasi teknisnya dulu ya," ucap dia.

Impor KRL Bekas Akhirnya Diputuskan Batal

Meski proposal impor sempat diproses pemerintah, KAI akhirnya memutuskan tidak melanjutkan rencana mendatangkan KRL bekas dari Jepang.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin memastikan perusahaan akan mengutamakan pengadaan kereta baru untuk memenuhi kebutuhan armada, sekaligus mendukung industri dalam negeri.

"Nggak ada, kita nggak mengimpor bekas. Pokoknya buat rakyat harus yang baru," kata Bobby, di Istana Negara, Kamis (5/11/2026).

Bobby menjelaskan, KAI membutuhkan total 23 train set KRL baru. Sebagian kebutuhan tersebut akan dipenuhi melalui produksi dalam negeri, oleh INKA.

"Salah satunya nanti sebagian ke INKA. Wajib mendukung industri dalam negeri," ujarnya.

Meski demikian, KAI tidak menutup peluang kerja sama dengan pihak asing untuk memenuhi kebutuhan kereta di dalam negeri. Namun, kerja sama tersebut harus tetap melibatkan industri nasional.

"Yang dari Luar negeri harus kerjasama sama dalam negeri," ucap dia.

Dari total 23 train set yang dibutuhkan, terdapat delapan rangkaian yang dinilai mendesak untuk segera dipenuhi. KAI menargetkan percepatan pengadaan seluruh KRL baru tersebut dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun mendatang.

"Banyak (kebutuhan), jadi ada 8 yang urgent, kemudian total 23 trainset. Kita akan percepat 2 sampai 3 tahun. 23 trainset baru," pungkas Bobby.

(wur)[Gambas:Video CNBC]