Nasional

Menyatukan Hati di Tengah Reruntuhan, 250 Pasangan Menikah di Gaza

Menyatukan Hati di Tengah Reruntuhan, 250 Pasangan Menikah di Gaza
Menyatukan Hati di Tengah Reruntuhan, 250 Pasangan Menikah di Gaza
Red: Edwin Dwi Putranto

Pasangan pengantin bersiap mengikuti pernikahan massal di kawasan Sea Club, pesisir Kota Gaza, Palestina, Jumat (6/11/2026). Sebanyak 250 pasangan mengikuti acara bertajuk Dress of Joy 3 yang didukung program bantuan kemanusiaan Uni Emirat Arab (UEA). (FOTO : Omar AL-QATTAA/AFP)

Iring-iringan kendaraan yang dihiasi bunga, pita merah, dan bendera Palestina melintasi jalanan Kota Gaza. Para pengantin melambaikan tangan dari dalam kendaraan, sementara warga menyaksikan dan menyambut perayaan yang menghadirkan suasana berbeda di tengah situasi sulit. (FOTO : Omar AL-QATTAA/AFP)

Dengan mengenakan setelan jas dan gaun pengantin putih, ratusan pasangan berkumpul untuk merayakan hari bahagia mereka. Bagi para pengantin, pernikahan ini menjadi kesempatan untuk memulai kehidupan berkeluarga meski kondisi di sekitar mereka belum sepenuhnya pulih. (FOTO : Omar AL-QATTAA/AFP)

Para pengantin perempuan tampil mengenakan gaun putih yang dipadukan dengan sulaman tradisional Palestina. Busana tersebut menambah warna dalam perayaan yang tidak hanya menjadi hari istimewa bagi pasangan pengantin, tetapi juga menghadirkan kebanggaan terhadap identitas dan tradisi mereka. (FOTO : Omar AL-QATTAA/AFP)

Di antara bangunan yang rusak dan kawasan yang terdampak perang, perayaan pernikahan berlangsung di pesisir Gaza. Kehadiran ratusan pasangan menjadi gambaran kehidupan masyarakat yang terus berjalan, meski mereka masih menghadapi berbagai keterbatasan. (FOTO : Omar AL-QATTAA/AFP)

Pernikahan massal ini diselenggarakan melalui Operation Chivalrous Knight 3, program bantuan kemanusiaan yang didukung Uni Emirat Arab (UEA). Kegiatan tersebut ditujukan untuk membantu pasangan muda Palestina yang mengalami kesulitan ekonomi agar tetap dapat melangsungkan pernikahan. (FOTO : Omar AL-QATTAA/AFP)

Antusiasme masyarakat terhadap program tersebut terlihat dari jumlah pendaftar yang mencapai 11.622 orang. Setelah melalui proses verifikasi dan seleksi, sebanyak 250 pasangan terpilih untuk mengikuti perayaan pernikahan bersama di Kota Gaza. (FOTO : Omar AL-QATTAA/AFP)

Perayaan pernikahan massal menghadirkan suasana berbeda di tengah wilayah yang masih berjuang memulihkan kehidupan setelah perang. Para pengantin melambaikan tangan dari dalam kendaraan, sementara warga menyaksikan dan menyambut perayaan dengan penuh sukacita.. (FOTO : Omar AL-QATTAA/AFP)

Kebahagiaan para pengantin berlangsung di tengah kondisi masyarakat Gaza yang masih menghadapi dampak perang. Banyak warga kehilangan tempat tinggal dan harus menjalani kehidupan di tenda-tenda pengungsian. (FOTO : Omar AL-QATTAA/AFP)

Persoalan tempat tinggal masih menjadi tantangan bagi banyak keluarga di Gaza. Sebagian warga kehilangan rumah akibat perang dan terpaksa bertahan di tenda pengungsian, termasuk pasangan muda yang harus memulai kehidupan rumah tangga dalam kondisi serba terbatas. (FOTO : Omar AL-QATTAA/AFP)

Salah seorang pengantin pria, Quwaider, mengungkapkan bahwa dirinya akan tinggal bersama sang istri di tenda setelah menikah. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa bagi sebagian pasangan, membangun keluarga tidak selalu dimulai dengan rumah yang layak, tetapi dengan harapan untuk menjalani kehidupan bersama. (FOTO : Omar AL-QATTAA/AFP)

Pernikahan massal menjadi kesempatan bagi warga Gaza untuk sejenak merayakan kebahagiaan di tengah situasi yang belum menentu. Di tengah kehilangan dan keterbatasan, mereka tetap melangkah untuk membangun keluarga dan menatap masa depan bersama. (FOTO : Omar AL-QATTAA/AFP)

inline

GAZA -- Di tengah bangunan yang hancur dan tenda-tenda pengungsian, iring-iringan mobil berhias bunga, pita merah, dan bendera Palestina melintasi jalan pesisir Kota Gaza. Dari dalam mobil, para pengantin melambaikan tangan menyambut warga. Hari itu, Jumat (6/11/2026), menjadi hari bahagia bagi 250 pasangan Palestina yang mengikuti pernikahan massal.

Sebanyak 250 pengantin pria mengenakan setelan jas, sementara para pengantin perempuan tampil dengan gaun putih berhias sulaman tradisional Palestina. Mereka berkumpul di Sea Club, kawasan pesisir Kota Gaza, untuk mengikuti acara bertajuk Thoub Al Farah 3 atau Dress of Joy 3.

Pernikahan massal tersebut diselenggarakan melalui Operation Chivalrous Knight 3, sebuah program bantuan kemanusiaan yang didukung Uni Emirat Arab (UEA). Kegiatan ini bertujuan membantu pasangan muda Palestina yang menghadapi kesulitan ekonomi untuk melangsungkan pernikahan dan memulai kehidupan berkeluarga.

Kebahagiaan yang dirayakan hari itu tidak serta-merta menghapus kesulitan yang masih mereka hadapi. Banyak warga kehilangan rumah akibat perang dan terpaksa tinggal di tenda pengungsian. Salah seorang pengantin pria, Quwaider, mengatakan dirinya akan tinggal bersama istrinya di tenda setelah pernikahan.

Kondisi ekonomi yang sulit dan meningkatnya biaya hidup juga membuat banyak pasangan muda kesulitan membiayai pernikahan. Karena itu, program tersebut menjadi kesempatan bagi mereka untuk mewujudkan rencana membangun rumah tangga yang sebelumnya tertunda.

Antusiasme warga terlihat dari jumlah pendaftar program Thoub Al Farah 3 yang mencapai 11.622 orang. Setelah melalui proses verifikasi, sebanyak 1.335 pendaftar memenuhi persyaratan dan mengikuti undian. Dari proses tersebut, terpilih 250 calon pengantin pria yang kemudian menikah bersama pasangannya dalam acara tersebut.

Bagi para pasangan, pernikahan itu bukan sekadar perayaan sehari. Di tengah kehidupan yang masih jauh dari normal, mereka berusaha memulai babak baru bersama orang yang dicintai. Gaun putih, iring-iringan kendaraan, dan senyum para pengantin menjadi gambaran bahwa keinginan untuk membangun keluarga tetap tumbuh di tengah situasi sulit Gaza.

sumber : AFP
Berita Lainnya