Hiburan

Perjuangan Fitri Carlina dari Jeddah ke Jakarta Sebelum Ayah Dimakamkan

Perjuangan Fitri Carlina dari Jeddah ke Jakarta Sebelum Ayah Dimakamkan
Jakarta -

Kepergian sang ayah menyisakan duka mendalam bagi Fitri Carlina. Terlebih, saat kondisi sang ayah mendadak kritis hingga akhirnya berpulang, penyanyi dangdut tersebut sedang berada jauh di luar negeri.

Fitri menceritakan detik-detik saat dirinya menerima kabar duka tersebut kala berada di Jeddah, Arab Saudi. Firasat tak enaknya muncul persis sebelum menunaikan ibadah salat Jumat.

Kabar buruk itu pertama kali diterima Fitri pada hari Jumat saat ia berada di Masjid Qisas, Jeddah. Saat ikamah dikumandangkan, sang kakak mengabarkan bahwa ayahnya harus dilarikan ke IGD.

"Aku pas lagi di Masjid Qisas di Jeddah. Pas mau ikamah untuk salat jemaah Jumat, Mbak Wiwi ngabarin kalau Bapak harus ke IGD. Di situ aku udah panik, tapi bilang, 'Nanti kabarin ya, aku salat Jumat dulu,'" kenang Fitri Carlina di kawasan Cikeas, Bogor, Minggu (8/11/2026).

Meski begitu, Fitri Carlina berusaha tetap tenang. Nalurinta sebagai anak merasakan hal yang tak biasa, terlebih saat mengetahui kondisi tekanan nadi sang ayah merosot tajam.

"Feeling aku udah gak enak sebenarnya. Dikasih tahu nadinya udah sampai 30, udah nge-drop banget. Cuma masih optimis karena bapak udah banyak melewati perjuangan hidup berkali-kali. Aku harap bapak kali ini masih kuat," tuturnya.

Kondisi sang ayah rupanya terus memburuk hingga malam harinya keluarga di Indonesia memberi tahu bahwa pihak rumah sakit meminta persetujuan untuk pemasangan ventilator.

Di momen itulah Fitri menyadari situasi sang ayah sudah sangat kritis. Tak banyak yang bisa ia lakukan dari jauh selain berserah diri dan melangitkan doa di Tanah Suci.

"Aku langsung salat, minta sama Allah, 'Ya Allah kalau memang waktunya bapak harus berpulang, minta tolong banget dicabutnya dengan yang sangat-sangat lembut'," ujar Fitri sambil menahan tangis.

Keesokan harinya pada Sabtu, 7 November 2026, kabar yang paling ditakuti itu akhirnya datang.

Tim medis sempat menawarkan tindakan rJP (CPR), namun pihak keluarga sepakat untuk mengikhlaskan agar tidak menambah rasa sakit pada tubuh almarhum.

"Dokter katanya mau CPR, tapi kalau dipaksakan takutnya rusuknya patah dan detak jantungnya udah sangat lemah. Kita sepakat sekeluarga mengikhlaskan karena bapak udah lama berjuang," ungkapnya.

Satu hal yang menguatkan hati Fitri adalah saat mendengar penuturan keluarga di Indonesia mengenai detik-detik kepergian sang ayah.

Almarhum dipanggil dalam keadaan sangat tenang, tanpa rasa sakit, bahkan sempat membersihkan diri sebelum berpulang.

Mendengar kabar tersebut, Fitri langsung berburu tiket penerbangan untuk mengejar prosesi pemakaman di Indonesia.

"Aku langsung pesan tiket dan alhamdulillah Allah masih ngasih kesempatan, semuanya dilancarkan. Aku minta sama Allah agar sempat melihat bapak dulu sebelum dimakamkan, dan alhamdulillah masih keburu," sambungnya menahan tangis.