Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik () mencatat Indonesia mencapai 5,47 persen secara tahunan (year-on-year) pada kuartal III 2026. Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi motor penggerak utama yang menopang kinerja perekonomian nasional pada periode tersebut.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud, mengungkapkan bahwa konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi sumber pertumbuhan terbesar, yakni sebesar 2,62 persen.
Selain konsumsi rumah tangga, pertumbuhan ekonomi juga ditopang oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi dengan sumber pertumbuhan sebesar 1,91 persen. Sementara itu, konsumsi pemerintah menyumbang sumber pertumbuhan sebesar 0,62 persen.
"Jika dilihat dari sumber pertumbuhannya pada triwulan III 2026, konsumsi rumah tangga masih menjadi sumber pertumbuhan terbesar yaitu 2,62 persen. Selain itu, pertumbuhan ekonomi triwulan III 2026 juga ditopang oleh komponen PMTB dengan sumber pertumbuhan 1,91 persen dan konsumsi pemerintah sebesar 0,62 persen," ujar Edy dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Edy memaparkan, kuatnya konsumsi rumah tangga sejalan dengan peningkatan mobilitas masyarakat yang mendorong aktivitas ekonomi di berbagai sektor.
Pertumbuhan konsumsi rumah tangga tertinggi tercatat pada kelompok pengeluaran restoran dan hotel yang melonjak 6,59 persen. Peningkatan ini dipicu oleh maraknya konsumsi makanan jadi di rumah makan dan restoran.
Selain itu, kelompok pengeluaran transportasi dan komunikasi juga tumbuh tinggi sebesar 5,83 persen. Kinerja ini didorong oleh mobilitas masyarakat yang tinggi serta maraknya penyelenggaraan berbagai acara pertunjukan seni dan kegiatan olahraga.
Investasi dan Program Makan Bergizi Gratis Ikut Menopang
Di samping konsumsi masyarakat, komponen investasi (PMTB) turut menjadi pilar penopang pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan PMTB tertinggi dicatatkan oleh subkomponen kendaraan yang melesat 12,96 persen, baik dari kendaraan produksi dalam negeri maupun impor.
Kinerja PMTB ini berbanding lurus dengan peningkatan realisasi investasi yang dirilis Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yakni tumbuh 7,59 persen.
Sementara itu, konsumsi pemerintah ikut bertumbuh seiring berjalannya realisasi belanja negara di berbagai lini program.
"Pertumbuhan konsumsi pemerintah didorong oleh peningkatan realisasi belanja pegawai, terutama gaji dan tunjangan ASN. Selain itu, ada kenaikan realisasi belanja barang dan jasa yang diserahkan langsung kepada masyarakat, di antaranya melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG)," pungkas Edy.