Surabaya (ANTARA) - Bangunan eks Hi-Tech Mall di kawasan Taman Hiburan Rakyat (THR), Surabaya, Jawa Timur, pernah menjadi tujuan warga untuk mencari komputer dan perangkat elektronik.
Perubahan pola belanja serta perkembangan perdagangan digital kemudian menggeser peran pusat perdagangan tersebut. Kini, bangunan itu memasuki babak baru melalui Surabaya Urban Creative Hub (SUBEC), yang oleh pemerintah kota diarahkan menjadi rumah kreativitas anak muda Kota Pahlawan.
Perubahan fungsi itu bukan sekadar menghidupkan gedung yang pernah ramai. Gagasan lebih besarnya ialah menyediakan ruang agar potensi generasi muda berkembang menjadi kekuatan sosial dan ekonomi.
Sejak peluncuran awal pada 5 Juli 2026, Pemerintah Kota Surabaya mengarahkan SUBEC sebagai ruang kolaborasi lintas bidang, mulai dari seni, budaya, kuliner, komunitas otomotif, teknologi, hingga olahraga elektronik.
Kawasan ini juga diproyeksikan menjadi tempat pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memperkenalkan produk serta menjangkau konsumen.
Perkembangan terbaru terlihat dalam Creative Community Days 2026, Sabtu (7/11). SUBEC menjadi panggung bagi komunitas dan pelaku usaha kreatif untuk memperlihatkan karya.
Surabaya Startup Festival (SSF) 3.0 mencatat lebih dari 380 pendaftar dari target awal 150 peserta. Setelah kurasi, sebanyak 50 pelaku usaha terpilih mengikuti pembinaan bisnis.
Antusiasme tersebut menunjukkan adanya kebutuhan terhadap ruang kreativitas. Namun, jumlah pendaftar belum cukup untuk menyimpulkan keberhasilan sebuah pusat kreativitas.
Ukuran yang lebih penting ialah berapa banyak peserta yang mampu mengembangkan kemampuan, menghasilkan karya, memperluas jejaring, dan memperoleh peluang setelah pembinaan berakhir.
SUBEC perlu melampaui fungsi tempat berkumpul dan berpameran. Kawasan ini harus memberi ruang bagi anak muda untuk bereksperimen, belajar, dan bertemu dengan orang memiliki minat berbeda.
Keberagaman komunitas merupakan modal penting. Seniman dapat berkolaborasi dengan desainer, pengembang teknologi dengan pelaku UMKM, sementara komunitas otomotif memperkenalkan kreativitasnya. Pertemuan lintas bidang membuka kemungkinan lahirnya gagasan baru.
Agar interaksi berkelanjutan, SUBEC memerlukan kalender kegiatan sepanjang tahun. Pameran, lokakarya, pertunjukan, kompetisi, dan kelas keterampilan perlu digelar teratur agar kawasan tidak bergantung pada festival tertentu.
Keberlanjutan operasional pun perlu dipikirkan sejak awal. Pengelola perlu menetapkan mekanisme penggunaan ruang, jadwal pemanfaatan, standar layanan, serta pembiayaan pemeliharaan secara transparan.
Kerja sama dengan komunitas dan swasta dapat membantu, sepanjang tidak menggeser fungsi publik SUBEC atau menutup akses bagi kreator pemula.
Karya bertumbuh
Peluang SUBEC semakin relevan dalam perkembangan ekonomi kreatif nasional. Sektor ini menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi, sekaligus menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Data BPS 2025 yang dipublikasikan Kementerian Ekonomi Kreatif menunjukkan jumlah tenaga kerja ekonomi kreatif mencapai 27,4 juta orang. Sebanyak 63 persen di antaranya berasal dari generasi Z dan milenial. Kementerian Ekonomi Kreatif juga mencatat subsektor kuliner, fesyen, dan kriya menyumbang 66,53 persen terhadap PDB ekonomi kreatif pada 2025.
Angka tersebut memperlihatkan posisi generasi muda dalam sektor berbasis gagasan, keterampilan, inovasi, budaya, dan teknologi. Tantangannya ialah memastikan kreativitas mereka berkembang menjadi kapasitas dan sumber penghidupan.
Tidak setiap karya harus menjadi perusahaan rintisan atau startup. Ilustrator, perancang busana, pembuat gim, musisi, dan pengusaha kuliner memiliki kebutuhan berbeda, mulai dari ruang berekspresi hingga pendampingan usaha.
Pembinaan SUBEC karena itu tidak boleh hanya berorientasi pada komersialisasi. Kreativitas dan pemberdayaan ekonomi perlu berjalan beriringan.
SSF 3.0 memberi gambaran awal pembinaan usaha melalui lokakarya penjualan dan pencitraan merek, penguatan bisnis, serta konsultasi bersama praktisi dan ahli hukum. Materinya mencakup kebutuhan pelanggan, pembagian kerja, dan pengelolaan arus kas.
Pendampingan perlu diteruskan setelah festival, mulai dari pengujian produk, perbaikan kualitas, penentuan harga, pemasaran, hingga perlindungan kekayaan intelektual.
Pelaku usaha yang siap dapat dipertemukan dengan investor, lembaga pembiayaan, distributor, dan mitra industri. Katalog digital dapat memperluas pasar melampaui pengunjung gedung.
Pada saat yang sama, pemerintah perlu menyediakan jalur pengembangan bagi komunitas yang tidak berorientasi langsung pada bisnis. Komunitas seni, budaya, olahraga elektronik, dan teknologi turut menghasilkan pengetahuan, membangun kreativitas, serta memperkaya kehidupan sosial kota. Manfaat rumah kreatif tidak seluruhnya harus diukur dari angka penjualan.
Ukuran keberhasilan perlu mencakup dimensi ekonomi dan sosial. Indikatornya antara lain usaha yang bertahan, transaksi, omzet, lapangan kerja, komunitas aktif, peserta pelatihan, kolaborasi, dan keterampilan baru. Evaluasi berkala membuat program lebih terarah dan penggunaan fasilitas publik dapat dipertanggungjawabkan.
Kesempatan setara
Keterbukaan harus menjadi prinsip pengembangan SUBEC. Rumah kreativitas tidak boleh hanya diperuntukkan bagi komunitas yang sudah dikenal, pelaku usaha bermodal besar, atau mereka yang memiliki jaringan luas. Kesempatan berkembang perlu menjangkau anak muda dari beragam latar belakang sosial dan ekonomi.
Perhatian Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi terhadap keterlibatan penyandang disabilitas, termasuk pemberian stan untuk memamerkan karya, merupakan langkah positif.
Namun, kesetaraan tidak cukup diwujudkan melalui ruang pamer sesekali. Penyandang disabilitas membutuhkan akses berkelanjutan terhadap fasilitas, pelatihan, pendampingan, dan peluang pasar.
Prinsip desain universal perlu diterapkan pada jalur mobilitas, akses antarlantai, toilet, dan papan informasi. Pelatihan harus dapat diikuti secara setara. Kurasi peserta dan penggunaan fasilitas juga perlu transparan, tanpa menjadikan kemampuan finansial sebagai penentu utama. Ruang pamer bergilir dan biaya terjangkau dapat memperluas kesempatan.
Pengguna perlu dilibatkan dalam tata kelola. Perwakilan komunitas dapat menyusun kalender kegiatan dan mengevaluasi program. Pemerintah kota juga perlu menghubungkan SUBEC dengan sekolah, perguruan tinggi, lembaga pelatihan, dan dunia usaha untuk membuka akses belajar, inovasi, mitra produksi, serta tenaga kerja.
Pembagian peran antardinas harus jelas. Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) dapat memperkuat kegiatan komunitas dan pengembangan talenta, sedangkan Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah serta Perdagangan (Dinkopumdag) mendukung pengembangan usaha dan akses pemasaran. Perguruan tinggi dan sektor swasta dapat memperluas keahlian serta jejaring.
SUBEC berpeluang menjadi simpul pengembangan sumber daya manusia dan ekonomi kreatif Surabaya, asalkan ruang fisik disertai program konsisten, tata kelola terbuka, dan keberpihakan kepada mereka yang membutuhkan kesempatan.
Menuju Indonesia Emas 2045, pembangunan membutuhkan generasi muda yang terampil, inovatif, mandiri, dan mampu menciptakan nilai tambah. Surabaya memiliki komunitas, talenta, perguruan tinggi, pelaku usaha, dan keragaman budaya yang dapat dipertemukan melalui SUBEC. Karakter lokal Surabaya perlu hadir dalam program agar karya memiliki identitas dan daya saing di pasar yang lebih luas.
Keberhasilannya bukan semata-mata diukur dari seberapa sering gedung dipadati pengunjung, melainkan dari seberapa banyak anak muda memperoleh keterampilan, menemukan mitra, menghasilkan karya, dan membangun masa depan melalui kreativitas.
Rumah kreatif yang baik tidak hanya menyediakan tempat untuk berkarya, tetapi juga membuka jalan agar karya memiliki kesempatan untuk tumbuh. Dari sanalah perubahan eks pusat niaga dapat memberi arti baru bagi masa depan Surabaya.